Kamis, 14 Juli 2011

Kenali Penyakit Menular Pada Balita Anda

Hal yang paling ditakutkan pada orang tua yang memiliki anak balita adalah ketika bayi dan balita sakit.Ketahanan tubuh yang masih rentan dan kondisi lingkungan bermain yang beragam dapat menjadi penyebab si anak terserang penyakit menular. Sakit memang tidak bisa dihindari oleh siapapun.

penyakit menular pada balita

Kalau anda mengenali gejala-gelaja sakit yang dialami si anak, mungkin hal ini akan membuat anda bisa sedikit tenang, setidaknya anda bisa mengambil langkah penanganan dengan cepat dan tepat dalam mengatasi gejala dan sakit balita anda.

Ada beberapa jenis penyakit hanya menyerang sekali saja, setelah si anak menderita sakit dan sembuh, maka ia akan kebal terhadap penyaakit tadi, misalnya sindrom pipi merah. Setiap kali si anak sakit, sistem kekebalan tubuhnya akan bertambah kuat, sehingga anda tak perlu khawatir.

Berikut tips untuk orang tua ketika bayi / balita anda mengalami gejala seperti dibawah ini :

1. Roseola infatum

Roseola  Infantum adalah suatu penyakit virus menular pada bayi atau anak-anak yang sangat muda, yang menyebabkan ruam dan demam tinggi. Roseola biasanya menyerang anak yang berumur 6 bulan – 3 tahun.

Penyebab:
Penyebabnya adalah virus herpes tipe 6 dan 7. Virus disebarkan melalui percikan ludah penderita. Masa inkubasi (masa dari mulai terinfeksi sampai timbulnya gejala) adalah sekitar 5-15 hari. Biasanya penyakit ini berlangsung selama 1 minggu.

Gejala:
Demam timbul secara tiba-tiba, mencapai 39,4-40,6° Celsius dan berlangsung selama 3-5 hari. Meskipun demam tinggi, tetapi anak tetap sadar dan aktif. Pada saat suhu tubuh mulai tinggi, 5-10% penderita mengalami kejang demam (kejang akibat demam tinggi).

Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di belakang kepala, leher sebelah samping dan di belakang telinga. Limpa juga agak membesar. Pada hari keempat, demam biasanya mulai turun.

Sekitar 30% anak memiliki ruam (kemerahan di kulit), yang mendatar maupun menonjol, terutama di dada dan perut dan kadang menyebar ke wajah, lengan dan tungkai. Ruam ini tidak menimbulkan rasa gatal dan berlangsung selama beberapa jam sampai 2 hari.

Perawatan:
Usahakan anak banyak istirahat. Turunkan demam dengan parasetamol khusus bayi (cek usia yang dianjurkan di kemasan).

Komplikasi:
Bila suhu tubuh anak sangat tinggi, ia bisa mengalami kejang demam (serangan dapat terjadi bila infeksi virus disertai demam tinggi).

2. Sindrom Pipi Merah (Parvovirus B19)

Parvovirus B19 adalah virus yang umumnya, dan hanya menimpa manusia. Sekitar separuh orang dewasa pasti pernah terkena mungkin selama masa kanak-kanak atau remajanya.

Gejala:
Dimulai dengan demam dan gangguan pernapasan. Ruam, seperti bekas tamparan, muncul di kedua pipinya. Setelah lewat dua sampai empat hari, barisan ruam menyebar ke tubuh, lengan dan kakinya. Selama beberapa hari sebelum ruam muncul, penyakit ini mudah menular. Si anaknya biasanya tidak terlalu sakit dan sakitnya akan membaik dalam 7-10 hari.

Perawatan:
Berikan parasetamol khusus bayi (cek usia yang dianjurkan pada kemasan) untuk menurunkan demam, atau obati rasa gatalnya. Setelah anak sembuh dari infeksi Parvovirus, biasanya dia memiliki kekebalan dan selanjutnya terlindung dari infeksi ini di kemudian hari.

Komplikasi:
Penyakit ini bisa bermasalah bila kronis, karena dapat memicu anemia akut. Hindari kontak anak yang terinfeksi parvovirus dengan wanita hamil karena dapat menyebabkan keguguran.

Pencegahan:

    * Tidak ada vaksin atau obat yang bisa mencegah infeksi Parvovirus B19.
    * Sering mencuci tangan telah dianjurkan sebagai cara praktis dan baik guna mengurangi tersebarnya Parvovirus.
    * Menjauhkan orang-orang yang terkena dari tempat kerja, penjagaan anak, sekolah atau pusat lain tidak cenderung mencegah tersebarnya Parvovirus B19, sebab penderitanya pun bisa menulari sebelum gelegatanya timbul.
    * Wanita hamil tak perlu harus disuruh menjauhi tempat kerja yang terkena rebakan Fifth Disease berhubung dengan hal tersebut di atas. Apakah dalam hal ini harus menjauhi dulu tempat kerjanya adalah keputusan wanita itu sendiri setelah mempertimbangkanya dengan keluarga, dokter dan majikannya.


3. Impetigo

Impetigo adalah infeksi kulit yang sering terjadi pada anak-anak, sering disebut pioderma. Impetigo umumnya mengenai anak usia 2-5 tahun. Penyebabnya adalah bakteri Staphylococcus aureus atau juga Streptococcus hemolitikus.

Impetigo terdiri dari dua jenis, yaitu:

Impetigo krustosa/kontagiosa (istilah awamnya, cacar madu) merupakan kelainan yang terjadi di sekitar lubang hidung dan mulut. Ciri-cirinya, yaitu kemerahan kulit dan lepuh yang cepat memecah sehingga meninggalkan keropeng tebal warna kuning serupa madu. Bila keropeng dilepaskan, terlihat luka lecet di bawahnya.

Impetigo bulosa/vesiko bulosa (cacar monyet atau cacar api) yang sering terjadi di ketiak, dada, dan punggung. Ciri-cirinya yaitu kemerahan di kulit dan gelembung-gelembung (seperti kulit yang tersundut rokok hingga dikenal dengan cacar api), berisi nanah yang mudah pecah. Cacar api sangat mudah menular dan berpindah dari satu bagian kulit ke bagian lain. Jika terjadi pada bayi baru lahir, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Kelainan ini dapat disertai demam dan menimbulkan infeksi serius.

Gejala:
Anda akan menemukan bintil-bintil lepuh kecil di sekitar hidung dan mulut atau telinga anak Anda, yang akan pecah dan mengeras membentuk keropeng kuning kecokelatan. Penyakit ini bisa menular bila lepuh masih mengeluarkan cairan dan berkerak, sampai dua hari setelah pengobatan dimulai.

Perawatan:
Antibiotik oral atau krim antibiotik yang diresepkan dokter.

Komplikasi:
Efek samping jarang terjadi, tapi karena penyakit ini menular, keadaan ini perlu ditangani segera.

4. Cacar Air

Merupakan penyakit yang sering dijumpai pada anak-anak. Cacar air atau chicken pox disebabkan virus Varisela zoster. Virus ini menyerang kulit dengan membentuk luka (lesi) yang berisi cairan. Infeksi virus ini biasanya mengenai balita berusia 9 bulan keatas.

Gejala:
Cacar air dimulai dengan kondisi tubuh yang tidak nyaman, muncul ruam dan terkadang suhu tubuh sedikit meningkat (di atas 37° Celcius). Setelah satu atau dua hari, muncul bintik-bintik – warnanya merah dan menjadi lepuhan berisi air. Biasanya mulai muncul di tubuh, kemudian menyebar dan mengering menjadi kerak, yang nantinya mengering dan mengelupas. Anak mulai terinfeksi sejak satu atau dua hari sebelum ruam muncul, sampai semua bintik mengering dan mengelupas.

Perawatan:
Biasanya anda tak perlu membawa anak ke dokter, kecuali anda tidak yakin apakah anak anda terserang cacar air atau bukan, atau anak Anda sangat tidak nyaman dan rewel. Berikan ia sebanyak-banyaknya cairan dan parasetamol khusus bayi (cek usia yang dianjurkan pada kemasan), untuk menurunkan suhu tubuhnya. Mandi dengan air suam-suam kuku dengan sedikit bikarbonat soda dapat membantu meredakan gatal.

Atau, usapkan bintik-bintik dengan lotion calamine; bila ia terbangun di malam hari karena gatal, antihistamin juga dapat meredakan gejala (keduanya dapat diperoleh di apotik). Kenakan ia pakaian longgar yang terbuat dari bahan katun dan untuk sementara lepaskan popoknya untuk meredakan rasa gatal.

Upayakan jangan sampai balita terinfeksi penyakit lain, sehingga terjadi komplikasi. Misalnya, jangan biarkan balita bermain di luar bersama teman-temannya dan hindarkan dia dari apa pun yang dapat membuat bintil-bintilnya pecah. Jika bintil pecah, kemungkinan terjadinya infeksi bakteri jadi lebih besar. Kalau sudah begini, balita harus diberi antibiotik bahkan kadang perlu di rawat di rumah sakit.

Komplikasi:
Dalam kasus yang jarang terjadi, cacar air dapat memicu penyakit ensefalitis (radang otak). Bila anak Anda menderita cacar air, pastikan ia tidak berada dekat ibu hamil di paruh pertama kehamilannya, dan tidak pernah menderita cacar air sebelumnya. Wanita hamil yang terserang cacar air dapat berisiko keguguran atau melahirkan bayi cacat. Wanita yang belum memiliki kekebalan tubuh dan akan segera melahirkan juga berisiko, karena bisa saja bayinya lahir dengan cacar air.

Pencegahan
Cegah dengan vaksinasi. Untuk mencegah kemungkinan terkena atau tertular cacar air dapat diberikan vaksinasi. Kalaupun terkena setelah vaksinasi, biasanya tidak sampai parah.

Vaksinasi biasanya diberkan pada usia satu tahun ke atas. Karena pada usia ini bayi sudah tidak lagi memiliki kekebalan tubuh dari ibunya. Daya lindung vaksin ini bisa mancapai 97% dan dapat diulang saat balita berumur 5 tahun.

5. Batuk Rejan

Penyakit yang disebut juga dengan batuk 100 hari ini merupakan salah satu penyakit infeksi pernapasan yang sangat menular. Penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak, terutama di bawah umur 2 tahun. Batuk rejan juga dapat terjadi pada orang dewasa, tetapi tidak berbahaya. Menjadi lebih berbahaya jika terjadi pada anak-anak, balita, dan orang lanjut usia.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis dan terkadang oleh Bordetella parapertussis. Penularannya melalui batuk atau bersin penderita yang terinfeksi.

Gejala:
Gejala awal batuk rejan mirip flu, dan setelah dua minggu ia baru mulai batuk. Bisa juga ia tersedak atau muntah dan terkadang napasnya berbunyi ketika menarik napas atau setelah batuk. Butuh waktu berminggu-minggu hingga serangan batuk mereda. Infeksi bakteri ini menyumbat lubang udara dengan lendir dan bisa berlangsung sekitar empat minggu sejak batuk mulai. Bila anak Anda terserang batuk terus-menerus dan dalam waktu lama, kunjungi dokter, untuk mendapat diagnosa dan mencegahnya menulari orang lain.

Perawatan:
Berikan anak makanan yang mudah ditelan dan berikan banyak minum. Bantu ia mengeluarkan dahak dengan membaringkannya di atas pangkuan Anda lalu tepuk-tepuk punggungnya. Dokter juga akan meresepkan antibiotik.

Berikan makanan bergizi yang mudah dicerna sedikit demi sedikit. Hindari makanan yang banyak mengandung gula pasir, pemanis buatan, dan gorengan.

Komplikasi:
Dalam kasus yang parah, anak mungkin harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan terapi oksigen dan pengobatan rehidrasi. Terkadang serangan batuk yang parah dapat menyebabkan radang di paru-paru dan membuat anak rentan terkena infeksi paru-paru. Infeksi sekunder, walaupun jarang, dapat memicu pneumonia dan bronkhitis. Hindari kontak dengan bayi lain yang berisiko terkena komplikasi.

6. Rubela (Campak Jerman)

Merupakan sejenis campak namun berbeda virus penyebabnya, hanya menyerang sekali seumur hidup. Meski virus penyebabnya berbeda, namun rubella dan campak (rubeola) mempunyai beberapa persamaan. Rubella dan campak merupakan infeksi yang menyebabkan kemerahan pada kulit pada penderitanya. Rubella merupakan penyakit yang serius yang berpotensi menjadi suatu penyakit yang fatal yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian.

Gejala:
Rubela diawali dengan flu diikuti ruam berbintik-bintik, yang muncul dalam satu atau dua hari – awalnya di wajah, kemudian sisanya di tubuh. Kelenjar di belakang leher akan membengkak. Virus rubela mulai menyerang sebelum ruam muncul, sampai setidaknya empat hari setelah ruam hilang. Belakangan ini, penyakit ini jarang ditemui karena anak biasanya sudah mendapatkan suntikan campak, gondongan, rubela, pada usia sekitar 12 – 15 bulan.

Perawatan:
Berikan anak minuman dingin, kenakan ia pakaian tipis dan berikan parasetamol khusus bayi (cek usia yang dianjurkan di kemasan) untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Komplikasi:
Meskipun termasuk infeksi ringan pada anak, jauhkan anak dari wanita hamil di atas empat bulan atau wanita yang sedang berusaha hamil. Bila anak Anda berada dekat-dekat wanita hamil sebelum Anda mengetahui penyakitnya, beri tahu dia agar bisa secepat mungkin berkonsultasi ke dokter. Hal ini perlu untuk mengetahui apakah ia telah mempunyai sistem kekebalan, karena infeksi ini dapat menyebabkan bayinya lahir cacat.

Pencegahan
Bagi anak-anak balita, pada usia 15 bulan atau 12 bulan (jika ia tidak mendapatkan imunisasi campak), diberikan vaksinasi mumps-measles-rubella (MMR), untuk mencegah risiko tinggi yang membahayakan bagi kesehatan.

7. Gondongan (mumps)

Gondongan adalah penyakit infeksi virus akut yang mengenai kelenjar ludah (khususnya parotis). Penderita dapat menularkan penyakitnya sejak ± 7 hari sebelum timbulnya gejala penyakit sampai ± 9 hari sesudahnya. Penularan dapat terjadi melalui: percikan ludah (droplet infection), alat-alat makan dan minum yang dipakai bersama. Penyakit ini banyak menyerang anak usia sekolah dasar (antara 5-9 tahun). Penyebabnya adalah virus mumps dari family Paramyxoviridae.

Gejala:
Gejala gondongan jelas, yaitu kelenjar yang membengkak dan lembek di bawah kedua telinga dan di bawah dagu. Anak Anda juga menderita demam, sakit kepala, mulut kering, sulit mengunyah dan menelan. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini biasanya tidak berbahaya; infeksi dimulai sejak beberapa hari sebelum kelenjar membengkak sampai mengempes kembali. Akhir-akhir ini gondongan jarang terjadi lagi, karena biasanya anak sudah mendapatkan suntikan MMR pada usia sekitar 12 – 15 bulan.

Perawatan:
Kompres anak dengan air suam-suam kuku untuk mengurangi demam atau berikan parasetamol khusus bayi (cek usia yang dianjurkan pada kemasan) dan/atau ibuprofen khusus bayi (bila usianya sudah di atas enam bulan -- cek usia yang dianjurkan pada kemasan). Berikan banyak minum tapi bukan jus buah, karena jus buah dapat memproduksi saliva, yang dapat menyebabkan rasa sakit. Tak perlu ke dokter kecuali anak Anda mengeluh sakit perut, merasa nyeri, atau ruam bertambah banyak.

Komplikasi:
Walaupun jarang terjadi, gondongan dapat memicu penyakit meningitis atau ensefalitis (radang otak). Selain itu gondongan juga berisiko (walaupun kecil) mengganggu fungsi testis pada anak laki-laki.

Pencegahan

    * Hindari kontak dengan penderita.
    * Tingkatkan daya tahan tubuh.
    * Imunisasi (biasanya dalam bentuk imunisasi MMR).


8. Campak (Rubeola, campak 9 hari, Measles)

Merupakan penyakir menular pada balita yang hadir sepanjang tahun tanpa musim. Walau tertular hanya sekali, lakukan antisipasi agar anak tak sampai mengalami komplikasi. Penyakit campak atau yang lebih sering disebut tampek mudah sekali menular. Virusnya bisa hidup dan menyebar lewat udara. Penyakit campak, yang dalam istilah asing disebut measles, disebabkan oleh virus campak atau morbili atau measles virus (MV) dari family Paramyxovirus. Penyakit campak hanya menyerang sekali seumur hidup, bila waktu kecil anak sudah pernah terkena campak maka setelah itu biasanya dia tidak akan terkena lagi.

Gejala:
Gejala campak diawali dengan flu berat, batuk keras, dan mata berair. Bercak putih di mulut (bintik Koplik) merupakan tanda awalnya. Anak Anda merasa tidak nyaman, demam tinggi, dan sulit melihat cahaya terang. Ruam akan muncul pada hari ketiga atau keempat, biasanya di belakang telinga, dan kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Bintik-bintik akan memerah dan semakin banyak, tapi tidak gatal.

Penyakit ini biasanya berlangsung sekitar seminggu. Campak sangat menular dan berpotensi menjadi penyakit virus serius, tapi biasanya jarang terjadi karena pada umumnya anak sudah mendapat suntikan MMR pada usia 12 – 15 bulan. Penyakit ini sangat menular sejak beberapa hari sebelum muncul ruam sampai lima hari setelah ruam lenyap.

Perawatan:
Kunjungi dokter. Tak perlu membawa anak ke dokter karena kemungkinan dapat menularkan anak lain. Berikan banyak minum (air hangat dapat meredakan batuk) dan berikan parasetamol khusus bayi (cek usia yang dianjurkan pada kemasan) untuk menurunkan suhu tubuh. Vaselin akan melindungi kulit di sekitar bibir. Basuh kerak pada pinggir mata, dan gelapkan kamar bila cahaya mengganggunya. Karena penyakit ini berasal dari virus, dapat diobati dengan antibiotik, tapi dokter Anda mungkin memberinya untuk infeksi sekunder.

Komplikasi:
Infeksi telinga dan paru-paru, muntah dan diare dapat terjadi dua hari setelah ruam muncul. Penyakit ini juga berisiko kecil menyebabkan pneumonia atau ensefasilitis, gangguan pada paru-paru atau telinga.

Pencegahan
Lakukan imunisasi campak pada anak. Memang tidak dijamin 100%, tapi kalaupun sampai terjangkit virus campak, maka kondisinya tidak terlalu parah. Imunisasi bisa dilakukan dua kali. Pertama di usia 9 bulan, usia ini dipilih karena antibodi bayi yang berasal dari ibunya lewat plasenta sudah semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat imunisasi. Agar kekebalan tubuh anak semakin baik maka pemberian vaksinasi campak diulang di usia 15 bulan dengan imunisasi MMR (Measles, Mumps and Rubella).

Related Posts:



10.19.00

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

This Blog Member Of : DMCA, Kaskus, Viva, Lintasme, Kompasiana