Minggu, 14 Mei 2017

Zaman sudah gak karuan, banyak sipenakut menjadi pemberani lantaran jadi pion yang diandalkan dan mendapat backup dari banyak golongan, berani petantang petenteng, sok jagoan, sok bersih, sok pahlawan, padahal mereka ibarat ikan riu riu atau klo orang jawa bilang rubuh rubuh gedang ( rubuh rubuh pisang ) yang satu mirip kiri yang lain ikut miring kiri, yang lain miring kanan yang lain ikut miring kanan.

Artinya banyak orang tidak punya pendirian, lihat banyak kasus hukum belakangan ini yang jadi tren, bela sana bela sini, kelompok sana kelompok sini, intinya sudah mengarah ke "SARA" ( suku agama dan ras ).
Ibarat " Biawak yang ditangkep, kok buaya yang marah?"

Ilustrasinya gini :

Ini biawak ditangkep karena sudah membuat resah karena suka menghancurkan peternakan ayam dan kolam ikan, jadi harus ditangkep karena kesalahannya memasuki wilayah hewan lain yang dilindungi.

Nah yang ini, buaya gak terima karena biawak ditangkep, jadi mereka keroyokan membawa saudara saudaranya dari hutan, dengan senjata utamanya yaitu gigi yang tajam, demi belain biawak yang kata mereka gak salah karena makan ayam dan makan ikan.

Petugas jadi bingung, dan terpojok karena buaya hutan protes denga sifat liarnya. Mau ditangkep buayanya ganas, yang ditangkep biawak cuma satu saja, buaya sehutan sudah keluar, apalagi semuabuaya ditangkep...!!

Kalau ayam yang teriak teriak tiap pagi, yang sudah jadi kebiasaanya membangun orang tidur, kadang kadang malah dilempar batu, dilempar kayu, bahkan dilempari botol. Hukum kadang lihat siapa yang memegangnya.

Mungkin duit dari ayam kecil jadi ayam sering jadi sasaran, bahkan malah jadi persembahan buat makanan buaya atau juga biawak. ayam kurang dihargai karena dianggep berisik suka membuat onar "katanya". Mungkin juga duit dari buaya sudah terlalu besar yang dimakan majikannya jadi si tuannya tidak bisa bijaksana.  

Begitulah hidup,  yang lurus didepan mata kadang dikorbankan jika telah termakan uang haram. Intinya sekarang, siapa yang makar siapa yang dalang makar? biawak dan buaya itu pada dasarnya sama, satu ras, walau beda klas, artinya mereka hidup dalam satu air, wajar kalau buaya ribut kalau biawak ditangkep.

ada dalang yang hanya berani bermain dibelakang layar, sok suci, gak berani terang terangang karena kalah dalam jumlah. Srigala berbulu domba. Kenapa bisa terus berlarut karena prinsip mereka kalu tidak sekarang kapan lagi, jika hari ini satu biawak ketangkep besok mereka mencoba biawak lain.

Jadi gak jelas siapa yang bener bener bela NKRI, semua orang ngerasa bela NKRI padahal mereka mau berlindung dibalik NKRI. Belanda dan penjajah lainya beserta warisannya tetep saja menjajah negeri ini, perusak moral dan kehidupan rakyat bumi ini, adu domba politik paling hebat penjajah. suku adalah alat adu domba paling efektif oleh belanda.

Jadi pasti sudah tahu siapa belanda ( buaya ), portugis dan penjajah lainnya (biawak ). Siapa mereka dan latar belakang mereka.
 
Harusnya kita yang menguasai bumi ini, kita pemilik negeri ini, kita penduduk asli bumi Indonesia, bukan bangsa lain, bukan suku lain, bukan negara lain, jika ada yang ingin merdeka dibumi ini mending cepat dihancurkan karena mereka adalah warisan perusak negeri ini alias anak cucu penjajah. Harusnya mereka kita buat jadi begini :

Kita yang menguasai penjajah, kita yang menunggangi penjajah, jadi sebaliknya.

Tulisan ini adalah opini pribadi saya sebagai admin blog ini, kasihan negeri ini tiap hari diserang hacker hacker dalam dan luar negeri, proxy proxy asing tiap hari memasuki situs situs vital negeri ini. Jangan terjebak dengan nama dan foto yang beredar semua bisa direkayas, percaya pada keimannya kita sendiri jika kita muslim sejati.









0 comments:

Posting Komentar

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini

Entri Populer