Senin, 04 Agustus 2014

Isu ISIS ( Islamic State of Iraq and Syria ) seperti semakin hangat baik dimedia online maupun di jejaring sosial media. Entah itu yang paham agama apa tidak yang penitng kasih komen, begitu juga yang pakar, para ahli, analis, ulama, sampe petinggi negara saling cuci tangan dan mengambil tindakan dan pasang muka pembela kebenaran.

Setelah perang ideologi komunis selesai dan negara komunis pecah belah menjadi kecil kecil, perang berganti haluan menjadi perang melawan terorisme. Siapa terorisme? yang pasti cap reminya agama ISLAM. Siapa korbannya? yang pastinya bukan penganut Islam, walau ada orang Islam yang ikut jadi korban.

Jika ada yang mati secara kejam, ada bom meledak, pasti pelakunya teroris, begitu itu berita banyak dimedia, dan pelakunya pastilah umat Islam. Itu terjadi dimana saja diseluruh dunia.

Tapi coba kita lihat yang sudah terjadi di Irak, Turki, Afganistan atau tempat lainnya. Orang tidak begitu ribut dan teriak terorisme kenapa? karena yang hancur negara Islam. Atau coba kita lihat yang terjadi di Palestina yang lagi top berita dunia, Israel membantai warga Palestina, termasuk anak anak yang jumlahnya sudah semakin besar. Apakah orang teriak Israel itu terorisme yang hancur dihancurkan? apakah masyarakat disini bisa sepaham ikut simpati dan mendukung Warga Palestina.

Entah karena dalangnya hebat atau konspirasinya hebat, Isu Israel membunuh warga palestina dan menghancurkan banyak tempat di Palestina kalah dengan isu ISIS. Justru berita dan gerakan ISIS ini cukup membuat khawatir banyak publik di Indonesia. Terlebih setelah beredar luas rekaman berjudul "Join the Ranks" dimana seseorang yang mengaku warganegara Indonesia, dan mengajak orang Indonesia berjuang bersama ISIS. Bisa dikatakan pembentukan tren Islamophobia di media.

Jargon terorisme, radikal, ekstrimis dan fundamentalis disuarakan untuk membentuk opini agar orang takut untuk bersuara dan berpendapat. Mirip politik cara penjajah belanda "devide et empera" atau politik adu domba. Kasihan bangsa ini masih kalah dan masih bisa dihancurkan dengan cara cara lama para penjajah Belanda. Harusnya pihak pihak pengambil keputusan berpikir dan bertindak bijaksana, jangan terkesan buru buru, dan mendikreditkan pihak pihak tertentu dengan isu basi terorisme.

Pihak militer dan Polri tidak boleh gegabah, hukum harus ditegakkan, azas praduga tidak bersalah harus diutamakan, Hukum harus berdiri diatas kepertingan Negara, Kita punya Pancasila dan UUD'45. Kita negara dengan beragam suku, agama, adat istiadat dan bahasa.

Ini era perang media, perang cyber, perang fisiologis, perang informasi dan konspirasi. Yang benar dan salah kadang beda tipis, tinggal tergantung kuatnya propaganda di media. Apalagi kita umat Islam jangan mudah dipecah belah, tetap berpegang teguh dengan Agama. Isu ISIS jangan membuat kita saling curiga, banyak isu lain yang lebih besa bisa ditutupi.
Ingat penjajah gaya baru tetap jitu menggunakan cara lama "politik adu domba". ISIS tetep jadi bahan perhatian, perlu dikaji dan dipelajari lebih dalam. Para ulama harus bisa mengendalian umatnya, jangan asal mengeluarkan pernyataan media, salah dan bener kadang bisa dipelintir kelompok tertentu untuk menjuruskan Islam kejurang.

Suara pengamat jadi dijadikan patokan berpikir walau harus dipikirkan. Lihat dulu siapa orangnya dan latar belakangnya. Informasi terkadang HOAX, begitu juga video terkadang HOAX jangan muda percaya.
Ini dunia maya semua bisa dibuat dan disebarkan secara mudah.

Ini beberapa foto pembantaian oleh ISIS terhadap pejuang sunni Irak yang menewaskan lebuh kurang 1700 orang. Erin Evers, peneliti Human Rights Watch di Irak mengatakan: "Kami mencoba untuk memverifikasi pics, dan saya tidak yakin mereka otentik. Artinya semua foto yang kita lihat dimedia bisa saja direkayasa dengan bantuan photoshop. Dibuat agar orang menilai kekejaman kelompok ISIS. Artinya sudah terbentuk opini di Indonesia kalau ISIS itu radikal, terorisme, kejam dan barbar.


foto palsu kekejaman isis

foto pembantaian oleh isis


Mari semua masyarakat bangsa ini untuk menenangkan pikiran jangan asal cuap, asal komen, dan asal bertindak. Kita dalam naungan NKRI. Negeri ini merdeka  bukan karena hadiah penjajah, pahlawan mengorbankan nyawa dan darah demi negeri ini, agar anak cucu mereka bisa hidup sejahtera dalam negerinya sendiri. Dulu penjajah menonjolkan kekerasan dan senjata tapi penjajah kita sekarang lebih halus, ibarat serigala berbulu domba, licin, licik, rakus dengan memasang muka malaikat penyelamat orang orang kecil.

Stop Pencitraan jelek terhadap Islam, Ini Indonesia bukan benua arab, bukan negeri cina, bukan negeri amerika, bukan Australia apalagi bumi Israel. Jangan pernah mau jadi antek antek asing dengan slogan dan nyanyian perdamaian, padahal kita penduduk Indonesia sedang dihancurkan. Dihancurkan dengan cara mudah yaitu politik "adu domba". Ingat kita bukan domba liar yang suka berantem dan bodoh.

0 comments:

Poskan Komentar

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini