Kamis, 10 Februari 2011

Hasil penelitian  yang diterbitkan di jurnal BMC Public Health, depresi, murung  dan kecemasan selama masa kehamilan apalagi hamil pertama kali akan menghasilkan bayi kecil yang cenderung meninggal dalam masa pertumbuhan.

Penelitian itu yang memfokuskan pada para wanita yang tinggal di pedalaman Banglades, memberikan penemuan pertama pada populasi non-barat. Penelitian itu mengindikasikan bahwa masalah kesehatan mental cenderung menjadi kontributor utama pada kematian dan buruknya kesehatan anak selain kemiskinan, gizi buruk atau status ekonomi rendah.

Kolaborasi antar peneliti di Institut Karolinska Swedia dan Komite Pedalaman Banglades menilai kesehatan mental 720 wanita pada trimester ketiga kehamilan dari dua kecamatan di pedalaman Banglades untuk gejala depresi antepartum dan kecemasan antepartum dan memantau mereka hingga 6-8 bulan postpartum.

Berat 81% bayi yang lahir dalam kondisi tersebut diukur dalam waktu 48 jam pengiriman dan data dasar menyediakan informasi dukungan sosial, sosioekonomi, antropometri, reproduksi dan obstetrik. Ketua peneliti Hashima-E-Nasreen menjelaskan, "18% wanita yang kami teliti di dua wilayah pedalaman Banglades didiagnosa menderita depresi dan seperempat mengalami kecemasan selama kehamilan, dan para wanita ini cenderung melahirkan bayi-bayi yang sangat kecil. Ini merupakan masalah yang mengkhawatirkan karena berat kelahiran yang rendah sangat terhubung dengan kematian bayi yang selanjutnya bisa menimbulkan siklus masalah kesehatan mental dan keterbelakangan.

Penelitian itu meningkatkan kesadaran akan betapa signifikannya depresi dan kecemasan membawa kesehatan buruk di negara-negara Asia Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa satu langkah untuk mencapai Tujuan Pengembangan Milenium yang disepakati dunia untuk mengurangi kematian anak di negara-negara berkembang adalah memberikan investasi pada dukungan layanan kesehatan mental di wilayah ini.
Terkena cahaya terus menerus pada malam hari mengubah metabolisme anda dan membuat badan anda gemuk bahkan tanpa perubahan jumlah makanan yang anda konsumsi, sesuai apa yang ditemukan para peneliti.

Mereka menemukan bahwa begadang seringkali membawa perubahan pada kebiasaan makan yaitu lebih banyak yang dimakan pada malam hari ketika metabolisme sedang melambat.
Bukti menunjukkan bahwa para pekerja 24 jam lebih rentan terhadap penyakit jantung dan diabetes.
Para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang terekspos dengan cahaya kecil atau redup selama delapan minggu menjadi sepertiga lebih berat daripada para tikus yang berada pada siklus standar siang dan malam.

Laura Fonken yang merupakan seorang ilmuwan neurosains di Universitas Negara Bagian Ohio mengatakan: "Walaupun tak ada perbedaan pada tingkat aktivitas atau konsumsi makanan harian (diet), para tikus yang hidup dengan cahaya pada malam hari menjadi kian gemuk dibandingkan dengan yang lainnya."
Penemuan tersebut yang dipublikasikan lewat internet di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa ada waktu yang "salah" untuk makan.

Perolehan berat badan jelas bukan hanya terbatas pada kalori yang masuk dan kalori yang keluar tapi juga tergantung pada jam biologis tubuh kita sendiri atau yang disebut circadian rhythm.
Dr. Fonken dan para koleganya mengatakan: "Cahaya pada malam hari merupakan suatu faktor lingkungan yang bisa saja menjadi penyebab epidemi atau wabah obesitas yang tidak diduga oleh orang-orang.
"Obesitas kolektif terkorelasi dengan sejumlah faktor termasuk tingkat eksposur cahaya pada malam hari."

Sebagai contoh, para peneliti mengidentifiksi penggunaan komputer dan televisi yang lebih lama sebagai faktor resiko obesitas, tapi para peneliti telah memfokuskan pada bagaimana hal tersebut berhubungan dengan kekurangan aktivitas fisik.
Prof. Nelson mengatakan: "Mungkin saja orang-orang yang menggunakan komputer dan menonton Televisi semalaman makan pada waktu yang salah yang mengganggu metabolisme mereka."

"Sudah jelas, menjaga berat badan memerlukan pemasukkan kalori rendah serta aktivitas fisik yang tinggi, tapi faktor lingkungan ini bisa saja menjelaskan mengapa beberapa orang yang menjaga keseimbangan energi dengan baik masih saja bertambah berat."

Pada satu eksperimen, tikus-tikus dibiarkan terkena cahaya pada malam hari, tapi pola makannya diatur pada waktu makan normal. Tikus-tikus tersebut tidak bertambah berat seperti layaknya yang berada dalam siklus normal siang dan malam.

Prof. Nelson mengatakan: "Sesuatu tentang cahaya pada malam hari membuat para tikus dalam penelitian kami ingin makan pada waktu yang salah untuk memetabolisme makanan mereka dengan baik."
Dia mengatakan jika hasilnya dikonfirmasi pada manusia hal ini akan mengindikasikan bahwa makan pada larut malam bisa saja merupakan faktor resiko khusus dari obesitas.

"Ketika kami membatasi pola makan mereka ke waktu makan normal mereka, kami tidak melihat pertambahan berat badan. Hal ini menambahkan bukti bahwa waktu makan sangat kritis terhadap pertambahan berat," kata Dr. Fonken.

Tam Fry dari the National Obesity Forum menggambarkan sebuah studi baru yang menginformasikan makan pada larut malam bisa membuat anda gemuk sebagai "sesuatu yang sangat menarik".
Dia mengatakan: "Waktu makan sangat signifikan."

"Kami telah lama menganjurkan orang-orang bahwa makan malam lebih cepat dapat membantu menjaga berat badan mereka tetap seimbang daripada makan pada larut malam yang membuat makanan ada dalam tubuh tanpa aktivitas fisik sepanjang malam.

Memiliki Tubuh langsing memang dambaan tiap wanita..
Melihat tubuh yang langsing dambaan tiap pria..
Menurut hasil penelitian  warna cahaya mempengaruhi cara otak memproses rangsangan emosional.Para peneliti menginvestigasi pengaruh instan cahaya serta komposisi warnanya pada pemrosesan emosional otak dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional.

Kita semua tahu bahwa hari yang cerah bisa mengangkat suasana hati kita. Namun, mekanisme otak yang melibatkan pengaruh cahaya sebagian besar masih belum diketahui.

Para peneliti di Pusat Penelitian Cyclotron (Universitas Liege), Pusat Neurosains Jenewa dan Pusat Sains Afektif Swiss (Universitas Jenewa), dan Pusat Penelitian tentang Tidur Surrey (Universitas Surrey) menyelidiki pengaruh instan cahaya serta komposisi warnanya pada pemrosesan emosi dalam  otak dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa warna cahaya mempengaruhi cara otak memproses rangsangan emosional.

Aktifitas otak para relawan sehat direkam saat mereka mendengarkan "suara marah" serta "suara netral" dan diekspos dengan cahaya biru atau hijau. Cahaya biru tak hanya meningkatkan respon terhadap rangsangan emosional pada "wilayah suara" otak dan pada hipokampus yang penting bagi proses ingatan, tapi juga membawa ke interaksi yang lebih ketat antara wilayah suara yaitu amigdala yang merupakan wilayah kunci pengaturan emosi, dan hipotalamus yang penting bagi pengaturan jam biologis oleh cahaya. Hal ini menunjukkan bahwa pengaturan fungsional otak dipengaruhi oleh cahaya biru.

Pengaruh sensitif pencahayaan pada pemrosesan emosional bisa saja berbeda dengan pengaruhnya yang bertahan lama pada suasana hati, akan tetapi penemuan saat ini pada subyek-subyek sehat memiliki implikasi penting bagi pemahaman kita tentang mekanisme dengan perubahan lingkungan pencahayaan dapat meningkatkan suasana hati, tak hanya dalam terapi cahaya untuk gangguan suasana hati, tapi juga dalam kehidupan keseharian kita dengan lebih memperhatikan pencahayaan di rumah dan di tempat kerja kita.


Publiser : Proceedings of the National Academy of Science
Kebanyakan Orang terkadang memiliki gambaran ideal  tentang pasangan hidup sempurna, sangat berbeda dari pasangan hidup kita di kehidupan nyata, menurut penelitian baru. Penelitian tersebut menemukan bahwa teman hidup kita sesungguhnya memiliki indeks tinggi, berat dan tubuh yang berbeda dengan pilihan ideal kita.

Kebanyakan pria dan wanita mengekspresikan preferensi jodoh yang berbeda untuk morfologi tubuh daripada morfologi sebenarnya dari masing-masing pasangan mereka dan ketidaksesuaian di antara jodoh yang sesungguhnya dan angan-angan, kerap lebih besar bagi wanita ketimbang pria.

Studi tersebut juga menemukan bawa kebanyakan pria menginginkan pasangan hidup wanita yang lebih langsing dari apa yang telah mereka miliki. Kebanyakan wanita merasa tidak puas juga, tapi lain dengan pria, beberapa wanita menginginkan jodoh yang lebih langsing, akan tetapi lainnya lebih memilih yang lebih besar.

Preferensi jodoh manusia giat-giatnya dipelajari untuk memahami apa yang membentuk tingkah laku reproduktif kita yang rumit. Beberapa studi sebelumnya secara terpisah menginvestigasi pilihan jodoh ideal dan pasangan yang sesungguhnya, tapi penelitian baru ini secara khusus dilaksanakan untuk membandingkan keduanya. Para peneliti mengumpulkan data dari seratus pasangan heteroseksual yang tinggal di Montpellier, selatan Perancis.

Untuk mengukur preferensi morfologi tubuh, mereka menggunakan perangkat lunak yang memperkenankan para partisipan gampang memodifikasi bentuk tubuh siluet ideal mereka pada layar komputer. Para peneliti kemudian membandingkan siluet-siluet ideal yang ada dengan karakteristik sesungguhnya pasangan mereka.
Untuk tiga ciri morfologis yang dipelajari yaitu tinggi, berat dan massa tubuh, preferensi jodoh para pria sedikit berbeda dari pasangan sesungguhnya mereka daripada preferensi para wanita. Sebagaimana yang dikatakan oleh para peneliti, ketidakpuasan rendah yang diamati pada pria dalam studi ini bisa dibatasi ke beberapa ciri-ciri fisik, dan hasilnya bisa berbeda dari ciri-ciri yang lain seperti kepribadian, pandangan politik atau selera humor yang juga penting dalam pilihan pasangan.

DR. Alexandre Courtiol dari Universitas Sheffield yang menyelenggarakan penelitian tersebut bersama kolega-kolega dari Institut des Sciences de l'Evolution de Montpellier mengatakan: "Tak masalah apakah pria atau wanita memenangkan pertempuran pilihan jodoh, nampaknya untuk setiap ciri, apa yang kita pilih dan apa yang kita dapatkan cukup signifikan berbeda. Hal ini dikarenakan apa yang menjadi ideal kita biasanya jarang atau tak ada dan juga karena kedua jenis kelamin mengekspresikan preferensi tapi jumlah maksimum biologis bisa berbeda di antara mereka."
Dalam sebuah studi, para pria yang mendengarkan pemutaran rekaman suara wanita, menilai bahwa nada-nada yang lebih tinggi adalah yang paling menarik, terlebih ketika diminta untuk memilih siapa yang akan difavoritkan mereka untuk kencan satu malam tanpa ikatan.

Ketika wanita mendengarkan tingkat nada suara yang sama, wanita bisa secara akurat memprediksi mana yang paling menarik bagi pria.

Para peneliti di Universitas Negara Bagian Pennsylvania meyakini bahwa suara tinggi wanita mungkin telah berevolusi ke suara muda, menggoda dan menarik bagi calon pasangan.

"Hasil ini mendukung prediksi kita bahwa wanita menggunakan karakteristik suara untuk melacak potensi ancaman saingannya," kata Dr. David Puts yang merupakan seorang antropolog yang memimpin studi tersebut seperti yang dilansir oleh Telegraph.

"Menurut para peneliti, aktris seperti Renee Zellweger dan Jennifer Tilly memiliki jenis suara yang membuat pria tertarik dan wanita merasa terancam.

Penemuan itu yang dipublikasikan di jurnal Kepribadian dan Perbedaan Individual mengindikasikan bahwa suara tinggi wanita bisa memberikan tanda kemudaan dan kesuburan bagi pria yang mendengarkan, seperti halnya suara berat pria diyakini menandakan supremasi.

"Karena pria lebih memilih suara feminin, seseorang mungkin juga mengharap bahwa wanita yang berlomba mencari perhatian pria akan meninggikan femininitas suara dengan meninggikan nada dan warnanada suaranya," tambah para peneliti.

Makanya Insting wanita lebih peka terhadap perasaan seseorang.
Dan wanita akan lebih jeli siapa yang bisa dijadikan pacar atau pasangan hidupnya nanti.

Arsip Blog

Visitor

Popular Posts

Donate To Me On Paypal

https://www.paypal.me/riyanto1971