Rabu, 16 Januari 2019

Keindahan alam yang hijau pasti membuat hati dan perasaan tenang bagi mereka yang menyukai keindahan alam, Lepas penat hati ketika mata memandang alam yang hijau segar, apalagi jika ada air terjunnya dengan gemercik air, serta sejuk air yang jatuh dari air terjun tersebut. Di Indonesia juga banyak air terjun yang indah, begitu juga di dunia luar seperti Air terjun Victoria  Falls. Air terjun Victoria  Falls merupakan salah satu air terjun paling spektakuler di dunia. Air terjun ini terletak di Sungai Zambezi, yang pada saat ini membentuk perbatasan antara Zambia dan Zimbabwe. Air terjun ini memiliki lebar kira-kira 1 mil (1,6 km), dengan ketinggian 128m (420 kaki).





Orang pertama yang menemukan dan memberi nama air terjun tersebut adalah David Livingstone, penjelajah Skotlandia, ia mengunjungi danau ini pada yahun 1855 dan menamakannya atas nama Ratu Victoria, sedangkan nama lokalnya adalah "Mosi-oa-Tunya", "asap menggelegar." Air terjun ini merupakan bagian dari dua taman nasional, Mosi-oa-Tunya National Park di Zambia dan Victoria Falls National Park di Zimbabwe, dan juga Situs Warisan Dunia UNESCO. Air terjun ini merupakan objek wisata utama di Afrika Selatan.



Kamis, 26 November 2015

Di Paris arrondissement 17 adalah sebuah bangunan apartemen 10 lantai yang begitu benar-benar tertutup dengan tanaman bambu kuning di dalam pot yang mengelilingi gedung tersebut hingga bangunan itu sendiri tidak terlihat. Setiap pot bunga padat dengan dedaunan dari tanaman bambu yang tumbuh pesat. Dengan 380 pot bunga tidak teratur melapisi balkon di tiga sisi bangunan, seluruh blok apartemen tampaknya menjadi tampilan pot tanaman super besar. Mungkin lebih cocok disebut gedung bambu.


Bangunan tersebut disebut "Flower Tower" dirancang oleh Edouard François. Pot tanaman bambu kuning ini memakan sistem penyiraman otomatis untuk memastikan bahwa tanaman tidak mati selama liburan panjang Paris dan di puncak musim panas. Bambu dipilih karena merupakan tanaman tumbuh kuat dan cepat, tetapi juga karena pohon bambu kuning tersebut akan mengekuarkan suara jika tertiup angin, memberikan kesan kepada penghuninya seolah olah mereka tidur di pohon, begitu menurut Edouard François.



Itulah sebagian gambar gedung bambu atau The Flower Tower Paris karya Edouard François.

Photo credit : Edouard François

Selasa, 07 April 2015

Danau dipadang pasir mungkin terbilang unik, karena padang pasir adalah tempat yang sangat panas, tapi itulah bukti kebesaran Allah SWT dengan apa yang diciptakannya agar kita bersyukur. Menurut penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan adanya beberapa danau air tawar, yang dikenal sebagai palaeolakes, di Fezzan kuno, Libya. Beberapa danau ini terletak di daerah selatan Wadi Irawan, Wadi al-Ajal dan Ubari Laut Pasir. Penemuan arkeologi dari wilayah ini, termasuk lapisan gelap bahan organik, kerang, kapak tangan dan lainnya Palaeolithic dan alat-alat Neolitik dan alat-alat yang sangat disarankan aktivitas manusia purba di Fezzan. Danau ini merupakan bagian dari jaringan yang lebih besar dari danau yang telah menyertakan terdekat legendaris Danau tritonis dan Danau Chad di antara banyak danau kecil lainnya.

Temuan dari danau juga menunjukkan bahwa bukit pasir yang mengesankan dari Ubari Laut Pasir setidaknya berusia 100.000 tahun. Banyak danau dianggap menutupi wilayah timur dan selatan laut, beberapa di antaranya masih ada sampai sekarang, seperti dalam kasus Gaberoun (atau Gabroun), Umm al-Maa dan Maafu.

The Ubari Lakes saat ini sekelompok sekitar 20 danau, ditengah-tengah lanskap menjulang bukit pasir dan oasis berpohon dari Ubari Laut Pasir. Untuk mencapai danau ini, wisatawan biasanya pergi ke Sabha, kemudian dari Sabha ke Tkerkiba, di mana situs berkemah sangat baik digunakan sebagai dasar untuk menjelajahi danau serta Wadi Matkhandouch. Kedalaman danau, menurut salah satu pusat menyelam Libya, bervariasi dari tujuh meter (seperti dalam Gabroun) 32 meter (Ain al-Dibbanah, dekat Ghadames). Beberapa danau ini perlahan mengering, karena kekeringan dan drainase buatan sumber daya bawah tanah!

Di antara yang paling indah dari danau yang Gaberoun dan Umm al-Maa (Bunda Air). Juga ada dua danau indah yang jarang dikunjungi oleh wisatawan. Ini adalah: Umm al-H'isan (Bunda Kuda), juga dieja sebagai Oum El Hassan, terletak di utara Gaberoun; dan di-Tarhouna, sekitar 11km dari Umm al-H'isan.

Danau Gaberoun adalah salah satu danau terbesar dan paling indah dari laut pasir besar Ubari; indah di tengah-tengah bukit pasir yang megah, dengan pohon-pohon palem di satu sisi dan reruntuhan desa tua di sisi lain. Sebagian besar danau interior Libya sangat berkarbonasi, memungkinkan perenang untuk dengan mudah mengapung tanpa mengerahkan usaha apapun. Kandungan garam yang cukup tinggi: hampir lima kali lebih asin daripada air laut. Beberapa danau adalah rumah bagi makhluk seperti udang tidak berbahaya kecil merah yang berkembang di perairan dangkal danau, yang Tuareg menggiling menjadi pasta dan digunakan untuk membuat kue, dan yang telah mendapatkan penduduk setempat nama 'worm pemakan '(Dawada atau Dawwada), dan maka nama: Dawada Lakes. Berikut Gambar Danau Indah Dipadang Pasir :









Umm-al-Maa adalah sebuah oase danau di Idehan Ubari Laut Pasir, Libya. Hal ini tersembunyi di antara bukit berpasir Ubari Laut Pasir jauh di dalam Libya Sahara. Ada 16 danau lainnya di bukit-bukit pasir sekitarnya. Beberapa menghilang dari waktu ke waktu dan beberapa seperti Gebraoun, Mafo dan Umm-al-Maa memiliki kehadiran yang konstan di padang pasir.

Semoga bermanfaat.



Jumat, 12 September 2014

Masjid Niujie dibangun pada tahun 996 dan merupakan masjid yang bersejarah paling lama dan paling besar skalanya di Kota Beijing. Luasnya Masjid Niujie sekitar 6 ribu meter persegi, ruang shalat seluas 600 meter persegi yang dapat menampung sekitar 1000 orang salat jamaah. Pembangunan masjid itu memadukan gaya bangunan tipikal istana Tiongkok dan gaya bangunan Arab, bentuk struktur kayu tradisional Tiongkok diwarnai ciri khas Arab sehingga membentuk bangunan unik Islam ala Tiongkok.

mesjid niujie

foto mesjid niujie cina

keadaan dalem mesjid niujie beijing cina

Masjid Niujie yang dibangun pada tahun ke-14 masa pemerintahan Tonghe dari Dinasti Liao (tahun 996) oleh dua orang asal Arab, merupakan masjid terbesar di antara 68 buah masjid di Beijing. Masjid ini mengalami beberapa kali perluasan pada masa Dinasti Yuan, Ming dan Qing (abad ke-13 sampai 19). Pada tahun 1442 (Dinasti Ming), bangunan masjid diperbaiki dan pada tahun 1696 (Dinasti Qing). Setelah Republik Rakyat Tiongkok berdiri tahun 1949, Masjid Niujie telah mengalami 3 kali renovasi, masing-masing pada tahun 1955, 1979 dan 1996.

Alamat: No. 88, Niujie Street, Xuanwu District, Beijing
Tel: 86-10-63532564

Rabu, 05 Maret 2014

Burano adalah sebuah pulau di Laguna Venesia Utara, hanya 40 menit dari Venice dengan perahu. Burano adalah sebuah desa nelayan tua, Pulau ini terkenal dengan seni pembuatan renda dan rumah-rumah warna-warni cerah dipinggiran sungai kota.

Burano didirikan oleh orang orang Romawi yang melarikan diri dari kota Altino selama invasi barbar,
Rumah rumah pertama Burano adalah palafittes, dengan dinding terbuat dari tongkat tenun dan kemudian diplester dengan lumpur. Kemudian rumah rumah baku digantikan oleh rumah rumah yang terbuat dari batu bata dan penduduk mulai melukis mereka dengan warna warna cerah.





Asal usul warna tidak diketahui, tetapi ceritanya bahwa, ketika para nelayan kembali dari laut, mereka bisa tidak mengenali rumah mereka melalui kabut, sehingga mereka mulai melukis dan memberi warna rumah rumah mereka dengan warna yang berbeda.




Warna rumah rumah ini telah didirikan oleh beberapa keluarga selama berabad abad. Selama periode sistem pewarnaan khusus yang dikembangkan. jika seseorang ingin melukis rumah mereka, seseorang harus mengirim permintaan kepada pemerintah, yang akan merespon dengan membuat pemberitahuan dari warna tertentu diizinkan untuk banyak itu.

Meskipun pulau itu dihuni abad ke-6, baru dikenal sejak abad ke-16 ketika wanita di pulau itu mulai membuat renda dengan jarum. Ketika Leonardo da Vinci mengunjunginya di tahun 1481, ia mengunjungi kota kecil Lefkara dan membeli kain untuk altar utama dari Duomo di Milano. Renda ini segera diekspor di seluruh Eropa, tetapi perdagangan mulai menurun pada abad ke-18.

Credit image

Jumat, 14 Februari 2014

Bencana alam kembali menerpa bangsa Indonesia, kini Gunung Kelud erupsi pada pukul malam jumat pukul 22.50 WIB. Letusan gunung kelud ini mencapai ketinggian 17 kilometer. Hingga kini, dampak abu vulkanik dari letusan gunung Kelud dirasakan hingga Purwokerto, Cilacap, dan Bondowoso.
Penerbangan menuju Yogyakarta, Solo, dan Surabaya hingga kini terpaksa dihentikan akibat pendeknya jarak pandang.

Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut yang berarti "sapu" dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet, atau Kloete) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri.




Kelud dikenal karena letusan ledakan besar sepanjang sejarahnya. Lebih dari 30 letusan telah terjadi sejak tahun 1000 Masehi.

Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia.

Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah (hingga akhir tahun 2007) yang membuat lahar letusan sangat cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat aktivitas tahun 2007 yang memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan air.

Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. Puncak Kelud adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah Puncak Gajahmungkur di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan.

Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei[4]), 1951, 1966, dan 1990. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini. Memasuki abad ke-21, gunung ini erupsi pada tahun 2007, 2010, dan 2014. Perubahan frekuensi ini terjadi akibat terbentuknya sumbat lava di mulut kawah gunung.

Letusan 1919
Letusan ini termasuk yang paling mematikan karena menelan korban 5.160 jiwa , merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km, meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905. Selain itu Hugo Cool pada tahun 1907 juga ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik.

Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan. Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik.

Letusan 1990

Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10 Februari 1990 hingga 13 Maret 1990. Pada letusan ini, Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu.

Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai pada tahun 1994.

Letusan 2007

Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.

Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.

Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).

Danau kawah Gunung Kelud praktis "hilang" karena kemunculan kubah lava yang besar. Yang tersisa hanyalah kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava.(http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Kelud).

Legenda Gunung Kelud.

Gunung kelud pun tidak lepas dari legenda rakyat,dibawah ini adalah sebuah cerita rakyat mengenai Gunung Kelud (Lembu Sura).

Raja Brawijaya penguasa kerajaan Majapahit, mempunyai seorang putri yang cantik yaitu Dyah Ayu Pusparani. Putri ini memang benar-benar ayu sesuai dengan namanya. Banyak raja dan pangeran yang melamar untuk dijadikan permaisuri. Prabu Brawijaya bingung memilih calon menantu. Lalu raja mengadakan sayembara siapa yang bisa merentang busur sakti Kyai Garodayaksa dan sanggup mengangkat gong Kyai Sekardelima, dialah yang berhak menikah dengan Putri Pusparani.



Para pelamar menguji kemampuannya namun ternyata tak satu pun yang sanggup merentang busur apalagi mengangkat gong yang sangat besar itu.

Menjelang akhir sayembara itu datang seorang pemuda berkepala lembu yaitu Raden Lembu Sura atau Raden Wimba. Dia mengikuti sayembara itu dan berhasil merentang busur serta mengangkat gong Kyai Sekardelima. Dengan demikian berarti Raden Lembu Sura yang berhak menikah dengan Dewi Pusparani.

Melihat kemenangan Lembu Sura, Putri Pusparani langsung meninggalkan Sitihinggil. Ia sangat sedih karena harus menikah dengan pemuda yang bekepala lembu.

Putri itu lari kepada embannya. Dia tidak mau menikah dengan manusia berkepala binatang, betapapun saktinya. Emban yang setia itu mencari akal bagaimana agar putri itu batal menikah dengan Raden Lembu Sura. Dia akhirnya menemukan jalan keluar.

Putri Pusparani disarankan mengajukan syarat kepada Lembu Sura. Syaratnya, Raden Lembu Sura harus bisa membuat sumur di puncak gunung Kelud. Mendengar saran embannya, Dyah Pusparani sangat gembira. Dia segera menyertai ayahnya untuk menemui Lembu Sura. "Selamat Raden Wimba. Engkau telah memenangkan sayembara dengan gemilang."

"Terima kasih putri dan kau akan menjadi istriku."

"Saya tahu itu, namun saya masih mengajukan syarat lagi."

"Katakanlah Putri, apa syaratmu itu?"
"Buatkan aku sumur di puncak gunung Kelud. Air sumur itu akan kita pakai mandi berdua setelah selesai upacara perkawinan."

"Baiklah Putri. Demi cintaku padamu, akan kupenuhi permintaanmu itu."


Raden Wimba putra adipati Blambangan itu segera meninggalkan keraton Majapahit menuju puncak Gunung Kelud. Dengan kesaktiannya, konon dia mampu mengerahkan makhluk halus untuk membantunya menggali sumur di puncak Gunung Kelud.

Ternyata benar, tak lama kemudian Lembu Sura telah menggali cukup dalam. Melihat hal itu, Pusparani ketakutan, bagaimana pun kalau Lembu Sura berhasil menemukan air di sumur itu dia harus menjadi istri Lembu Sura.

Pabu Brawijaya juga kebingungan. Dia bisa memahami perasaan putrinya. Dewi Pusparani menangis di hadapan ayahnya. Dia memohon ayahandanya bisa menolongnya.

Akhirnya Prabu Brawijaya menemukan cara. Lembu Sura harus ditimbun hidup-hidup di dalam sumur itu. Kemudian Prabu Brawijaya menitahkan seluruh prajurit yang menyertainya untuk menimbun sumur itu dengan batu-batuan besar. Juga gundukan tanah yang ada di sekitar itu. Sebentar saja sumur tadi telah rata seperti semula. Lembu Sura tertimbun di dasarnya.


Meskipun begitu karena dia sakti, dia masih sempat mengancam kepada Prabu Brawijaya.

"Prabu Brawijaya, engkau raja yang licik, culas. Meskipun aku telah terpendam di sumur ini, aku masih bisa membalasmu. Yang terpendam ini ragaku bukan nyawaku. Ingat-ingatlah, setiap dua windu sekali aku akan merusak tanahmu dan seluruh yang hidup di kerajaanmu."

Setelah suara itu hilang. Seluruh prajurit yang melihat kejadian itu ketakutan. Begitu pula Prabu Brawijaya dan putrinya. Kemudian Prabu Brawijaya memerintahkan untuk membuat tanggul pengaman. Tanggul itu sekarang disebut Gunung Pegat.

Hingga sekarang ini jika Gunung Kelud meletus dianggap sebagai amukan Lembu Sura untuk membalas dendam atas kelicikan Prabu Brawijaya.

Cerita rakyat atau legenda ini mirip dengan legenda asal mula Reog Ponorogo. Lembu Sura yang asalnya seorang putra bangsawan itu memang seorang pemuda sakti, namun sifatnya berandalan maka ayahnya menyabda hingga ia dianggap pemuda bodoh seperti kerbau. Demikanlah cerita rakyat ataupun legenda mengenai Gunung Kelud  atau kisah Lembu Sura.

Turut berduka kepada semua korban akibat letusan gunung kelud, Indonesia berduka, saudara kita terkena bencana akibat letusan gunung kelud. Awal tahun 2014 ini, bangsa ini mendapat teguran, cobaan, awal tahun kuda kayu menurut kalendar cina. Tapi terlepas dari semua itu bencana adalah ujian cobaan, teguran kepada semua penduduk negeri ini, negeri yang berbudaya dan memiiki warisan keluhuran. Semoga semakin memberi pelajaran kepada kita semua agar Tetap hidup dan berjalan berada dijalan dan tuntunan Ilahi. ( AP/Cybermales ).

Sumber : http://etnics.blogspot.com/2014/02/gunung-kelud-dan-legenda-rakyat-yang.html

Jumat, 11 Oktober 2013

Festival unik dan ritual ekstrim masyarakat phuket tahailand ini, pasti bikin bulu kuduk merinding, dan ini sering dilakukan oleh penganut ajaran Taoisme ( Tao ) di Thailand. Masyarakat phuket Thailand melakukan aksi yang mereka anggap penghormatan terhadap dewa mereka. Perayaan hari sembilan dewa ini mereka lakukan dengan aksi tusuk badan dengan senjata tajam, paku, pedang dan benda benda tajam lainnya,termasuk memotong lidah dengan pedang atau juga pisau. Bagian muka seperti pipi ditusuk dengan paku hingga tembus, ada juga mulut ditusuk dengan pedang hingga tembus ke pipi, Belum lagi aksi mengiris ngiris lidah dengan senjata tajam, termasuk menghujamkan pedang, tombak, pisau ke perut. Bisa dibilang memutilasi diri sendiri dengan senjata tajam, Atraksi masyarakat phuket thailand ini mirip banget dengan aksi debus di Indonesia.

Ini gambar gambar dari ritual ekstrim ala masyarat phuket thailand ("WARNING" adegan ekstrim hanya buat mereka yang berusia diatas usia 17+) :

gambar ekstrim

kebal senjata tajam

ritual aneh

ritual ekstrim masyarakat phuket thailand

Atraksi menyakiti diri ala masyarakat phuket thailand ini dilakukan oleh mereka yang menguasi keahlian tersendiri, jangan pernah dicoba dirumah. Dan aksi tusuk tubuh dengan senjata tajam hanya dilakukan oleh para ahlinya, walau tidak jarang diantara mereka juga ada yang harus dilarikan kerumah sakit
karena cedera karena senjata tajam.

Aksi kebal tubuh dari senjata tajam ini sering dilakukan juga oleh kebanyakan masyarakat asia lainnya, termasuk Indonesia, cuma beda dengan cara dan keyakinannya. atraksi ekstrem ini, atau ritual ekstrim masyakarat phuket thailand ini menjadi daya tarik turis mancanegara.

Apapun  namanya, kekuatan tubuh bukan untuk dipamerkan, tradisi tiap masyarakat dunia memang tidak sama. Penghormatan pada leluhur dan dewa bagi mereka yang meyakininya. Tuhan tidak akan pernah suka jika manusia menganiaya dan menyakiti dirinya sendiri. Tapi keyakinan dan tradisi adat mungkin banyak mengingatkan suatu bangsa atas keberadaan leluhurnya.

Credit image : Paula Bronstein

Kamis, 19 September 2013

Bumi Sriwijaya atau Palembang atau kota empek empek merupakan nama salah satu kota di pulau Sumatera, di kota ini blogger Cybermales bertempat tinggal, tepatnya di provinsi “Sumatera Selatan”. Kota yang terkenal dengan “Jembatan Ampera” dan Makanan Khas “Pempek” ini, merupakan sebuah kota yang memiliki nilai sejarah yang tinggi di dalam perjalanannya. Hingga saat ini, kota Palembang menjadi kota yang berkembang, dan merupakan salah satu kota terbesar di Sumatera pada khususnya dengan menempati peringkat kedua, dan Indonesia pada umumnya dengan peringkat ke-8.

logo Islamic Solidarity Games palembang 2013

Dan kota palembang akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan ISG ( Islamic Solidarity Games ) III 2013 yang akan diresmikan dan dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 22 september 2013. ISG (Islamic Solidarity Games) ini akan dihadiri Sebanyak 42. peserta dari negara antara lain, Algeria, Azerbaijan, Brunei Darussalam, Burkino Fasao, Mesir, Guyana, Indonesia, Iran, Iraq, Kuwait, Libya, Maladewa, Maroko, Malaysia, Oman, Pakistan, Palestina, Qatar, Saudi Arabia, Sudan, dan Suriah. Kemudian, Tajikistan, Turkmenistan, Turki, Uni Emirat Arab (UEA), Uganda, Yaman, Guinea, Mauritania, Gambia, Nigeria, Yordania, Togo, Pantai Gading, Senegal, Kamerun, Monzambik, dan Libanon, Tunisia, Somalia, Bahrain, dan Jibuti. Dan tidak tanggung tanggung ISG ini akan dihadiri banyak raja arab.  Sekilas akan admin Cybermales uraikan sedikit tentang sejarah dan asal usul kota Palembang yang akan jadi tuan rumah ISG 2013 (Islamic Solidarity Games ) ke-3 ini.

Dimulai dari arti nama kota Palembang

Gambar jembatan ampera palembang di waktu malam

Nama Palembang banyak mempunyai arti dari berbagai sumber para ahli. Mereka mengatakan kata tersebut berasal dari Lembang atau Lembeng, yaitu tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air.

Untuk arti lain dari Lembang adalah tidak tersusun rapi, terserak-serak. Sedangkan menurut bahasa Melayu, lembang berarti air yang merembes atau rembesan air. Arti Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.

Menurut sumber lainnya, Palembang berarti tempat tanah yang dihanyutkan ke tepi, atau tanah yang terdampar. Pengertian Palembang tersebut kesemuanya menunjukkan tanah yang berair.

lni tidak jauh dari kenyataan yang ada, bahkan pada saat sekarang, yang dibuktikan oleh data statistik tahun 1990, bahwa masih terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. Sebagai catatan tambahan, di Kotamadya sekarang ini masih tercatat sebanyak 117 buah anak-anak sungai yang mengalir di tengah kota.

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk  memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien, dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:

• Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan
• Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah
• Daerah pesisir timur laut

 Peta kuno kota palembang


Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat menentukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara.

Asal asul nama kota Palembang

Kapan nama Palembang “lahir”, tepatnya belum dapat diperkirakan. Apakah nama ini lahir sejak Sriwijaya runtuh, atau sebaliknya, nama Palembang lahir lebih dahulu sebelum nama Sriwijaya “lahir”?

Banyak sumber-sumber sejarah di zamannya yang menentukan lahirnya kota Palembang. Seperti sumber kronik China, Jawa, Islam, dan Melayu. Namun, sumber-sumber tersebut masih simpang siur dalam penentuannya. Yang jelas, dari sumber-sumber tersebut, tercatat dari tahun 1225 hingga di tahun 1612.

Sejarah Melayu aslinya ditulis sekitar tahun 1511, ditulis kembali dari pelbagai versi, antaranya oleh Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi yang menulis kembali teks tahun 1612. Teks yang menceritakan Palembang dari Sejarah Melayu:

"Ada sebuah negeri di tanah Andalas, Perlembang namanya, Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak-cucu Raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Seguntang Mahameru namanya".

Sejarah dan Perkembangan kota Palembang

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, berumur setidaknya 1324 tahun, hal ini berdasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M), yang ditemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah Wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Gambar pulau kemarau palembang

Prasasti Batu bersurat, ditemukan oleh Controleur Batenberg di tepi sungai Kedukan Bukit, yakni diantara Bukit Siguntang dengan Situs Karanganyar pada tahun 1926 dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Prasasti tersebut oleh penduduk kampung Kedukan Bukit waktu itu dijadikan semacam tumbal bila akan mengikuti lomba Bidar, yakni dengan cara meletakkan di haluan Bidar yang akan diperlombakan.

Konon, Bidar atau Perahu yang digentoli dengan batu “sakti-bertuah” itu senantiasa menang berlomba. Kemudian Batu-bersurat Kedukan Bukit itu ditelaah oleh para pakar sejarah dan kebudayaan, diantaranya Prof. M. Yamin yang menyatakan, itulah proklamasi (penggalian/pemindahan) ibukota Sriwijaya (dari tempat lain) ke Bukit Seguntang.

Prasasti Kedukan Bukit itu berbunyi sebagai berikut :


1. Swasti cri cakawarsatita 605 ekadaci cu
2. Klapaksa wulan waicakha dapunta hiyang nayik di
3. samwau manalap siddhayatra disaptami cuklapaksa
4. Wulan jyesta dapunta hiyang marlapas dari Minanga
5. Tamvan mamawa yam wala dualaksa danan koca
6. Duaratus cara di samwau danan jalan sariwu
7. Tluratus sapulu dua wannakna datam di Mukha Upang
8. Sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan
9. Laghu mudita datam marwuat wanua
10. Criwijava siddhayatra subhiksa.

(Sumber : Prof. Poerbacaraka, G. Coedes, Prof. Dr. Ph.S. Van Ronkel Dr. Buchari, Prof. Slametmulyana)

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik.

Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Kota Palembang dan Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas.

Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :

    “...Negara ini terletak di Laut Selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah di pelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.”

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut asing seperti Cina, Arab, dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengar. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris.

Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak.

Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah di tanah kering di atas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama). Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan.

Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggalah Palembang sebagai satu kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375.

Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam.

Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di nusantara setelah kebesaran Sriwijaya. Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos.

Majapahit tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-Kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok cina yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan-chou.

Meskipun setiap kelompok ini mempunyai pemimpin sendiri, tetapi mereka sepakat menolak pimpinan dari Majapahit dan mengangkat Liang Tau-ming sebagai pemimpin mereka. Pada masa ini Palembang dikenal sebagai wilayah yang menjadi sarang bajak laut dari orang-orang Cina tersebut. Tidak heran jika toko sejarah dan legendaris dari Cina, yaitu Laksamana Chen-ho terpaksa beberapa kali muncul di Palembang guna memberantas para bajak laut ini.

Pada tahun 1407 setelah kembali dari pelayarannya dari barat, Chen-ho sendiri telah menangkap toko bajak laut dari Palembang yaitu Chen Tsui-i. Chen-ho membawa bajak laut ini kehadapan kaisar, kemudian dihukum pancung di tengah pasar ibukota. Namun, beberapa toko bajak laut di lautan cina seperti Chin Lien, pada tahun 1577 telah bersembunyi di Palembang dan kemudian menjadi pedagang yang disegani di Palembang.

Chiang Lien sebagai pengawas perdagangan untuk cina, sebetulnya kedudukan ini adalah suatu jabatan yang disahkan oleh kaisar dan mempunyai wewenang mengatur hukum, imbalan, penurunan ataupun kenaikan (promosi) bagi warga Cina di Palembang. Dapat dibayangkan bahwa kekuasaan orang-orang Cina di Palembang hampir 200.

Masa Kesultanan Palembang

Berbicara mengenai asal-usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama.


Menurut Tomec Pires yang menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan bahwa pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina di Palembang adalah akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan Pangeran Hadiwijaya dari Pajang, dimana kematian Aria Penangsang membuat para pengikutnya melarikan diri ke Palembang.

Para pengikut Aria Jipang ini membuat ketakutan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat berada di kompleks PT. Pusri. Dimana makam Ki Gede Ing Suro berada di belakang Pusri. Dari bentuk keraton Jawa di tepi sungai Musi, para penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya.

Pada abad ke-17, terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan jawa dan melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang. Ki Mas Hindi adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palembang, memutus hubungan ideologi dan kultural dengan pengaruh pusat kerajaan kerajaan Mataram di Jawa (1643-1651). Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (Kimas Hindi/Kimas Cinde/Sunan Cinde Walang), menyatakan dirinya sebagai sultan pertama, dan memproklamirkan kota Palembang sebagai ibukota Kesultanan Palembang Darussalam, setara dengan Sultan Agung di Mataram. Ki Mas Hindi bergelar Sultan Abdurrahman, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cinde Walang (1659-1706).

Keraton Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada tahun 1659, akibat perlawanan Palembang atas kekurang ajaran hasil wakil VOC di Palembang, Sultan Abdurrahman memindahkan keratonnya ke Beringin Janggut (sekarang sebagai pusat perdangangan).

Sultan Mahmud Baaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757), adalah merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang, Makam Lembang (Kawah Tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badarudin dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang).

Selain itu, dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesulatan, yang berfungsi ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang.

Batanghari Sembilan adalah satu konsep Melayu – Jawa, yaitu adalah delapan penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang, merupakan penjuru kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton Palembang (lebih tegas lagi berada di tangan Sultan yang berkuasa).

Dari seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah membuktikan dan terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan oleh orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki perairan sungai, perahu-perahu kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan perampasan.

Kemungkinan perahu perampok yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi, karena ketatnya penjagaan oleh kekuatan Sultan dengan segala peralatannya. Selain kekayaan yang melimpah dari baiknya pelayanan pelabuhan dan perdagangan, membuat Palembang mempunyai kesempatan memperkuat pertananannya.

Ini dibuktikan oleh Sultan Muhammad Bahauddin yang mendirikan keraton Kuto Besak pada tahun 1780. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan Mahmud Baruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi dan peperangan kedua bangsa tersebut.


Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun 1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua kali mengahajar pasukan pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang. Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.

Masa Penjajahan Belanda

Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama.

Palembang sebagai Ibukota Kesultanan Palembang Darussalam pada saat di bawah pemerintah kolonial Belanda dirombak secara total dari sisi penggolongan kotanya. Pada awalnya wilayah pemukiman penduduk kota Palembang, di zaman Kesultanan lebih dari sekedar pemukiman yang terorganisir. Pemukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan dimana patronage dan paternalis terbentuk akibat struktur masyarakat tradisional dan feodalistis.

Keseluruhan sistem ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama gugu(k). Kosakata gugu berasal dari jawa – Kawi yang berarti barang katanya, diturut, diindahkan. Setiap guguk mempunyai sifat sektoral ataupun aspiratip. Sekedar untuk pengertian meskipun tidak sama, bentuk guguk ini dapat dilihat dengan sistem gilda pada abad pertengahan di Eropa.

Contoh nama wilayah pemukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah dimana paramiji dan alingan (struktur bawah dari golongan penduduk kesultanan) yang memproduksi hasil-hasil dari bahan tembaga. Sayangan artinya pengerajin tembaga (Jawa Kawi). Produksi ini dilakukan atas perintah dari bangsawan yang menjadi pimpinan (guguk) yang menjadi pelindung terhadap kedua golongan baik miji maupun alingan (orang yang dialingi/dilindungi).

Hasil produksi ini merupakan pula income bagi sultan dan kesultanan. Contoh lain dalam adalah wilayah pemukiman mengindikasikan wilayah guguk, yaitu kepandean adalah rajin atau pandai besi, pelampitan adalah perajin lampit, demikian juga dengan kuningan adalah perajin pembuat bahan-bahan dari kuningan. Pemukiman ini dapat pula bersifat aspiratif, yaitu satu guguk yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama, seperti guguk Pengulon, pemukiman para pendahulu dan alim ulama disekitar Mesjid Agung.

Demikian pula dengan kedemangan, wilayah dimana tokoh demang tinggal, ataupun kebumen yaitu tempat tempat dimana Mangkubumi menetap. Disamping ada wilayah-wilayah dimana kelompok tertentu bermukim, seperti Kebangkan adalah pemukiman orang-orang dari Bangka, Kebalen adalah pemukiman orang-orang dari Bali. Setelah Palembang dibawah adminstrasi kolonial, maka oleh Regering Commisaris J.I Van Sevenhoven sistem perwilayahan guguk harus dipecah belah.

Pemecahan ini bukan saja memecah belah kekuatan kesultanan, juga sekaligus memcah masyarakat yang tadinya tunduk kepada sistem monarki, menjadi tunduk pada administrasi kolonial. Guguk dijadikan beberapa kampung. Sebagai kepala diangkat menjadi Kepala Kampung, dan di Palembang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk mengepalai wilayah tersebut diangkat menjadi Demang.

Demang adalah pamongraja pribumi yang tunduk kepada controleur. Kota Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung berada di seberang ilir dan 16 kampung di seberang Ulu. Kampung-kampung ini diberi nomor yaitu dari nomor 1 sampai 36 untuk seberang ilir, sedangkan seberang ulu dari 1 sampai 16 ulu.

Pemberian nomor-nomor kampung ini penuh semangat pada awal pelaksanaannya, tetapi kemudian pembagian tidak berkembang malah menyusut. Pada tahun 1939 kampung tersebut menjadi 43 buah kampung, dimana 29 kampung berada diseberang ilir dan 14 kampung berada di seberang ulu.

Dapat diperkirakan penciutan adminstratif kampung ini karena yang diperlukan bukanlah wilayahnya, tetapi cacah jiwanya yang ada kaitan dengan pajak kepalanya. Sehingga untuk itu digabungkanlah beberapa kampung yang cacah jiwanya minim, dan cukup dikepalai oleh seorang Kepala Kampung. Oleh karena Kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, maka untuk golongan orang Timur Asing, mereka mempunyai Kepala dan wijk tersendiri.

Untuk golongan Cina, kepalanya diangkat dengan kedudukan seperti kepangkatan militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor. Demikian pula dengan golongan Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk kedudukan kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi pemerintah disertai pula jaminan dana begi kedudukannya.

Pemerintah Kota Palembang pada 1 April 1906 menjadi satu Stadgemeente. Satu pemerintahan kota yang otonom, dimana dewan kota yang mengatur pemerintahan. Penduduk menyebut pemerintah kota ini adalah Haminte. Ketua Dewan Kota adalah Burgemeester (Walikota), dia dipilih oleh anggota Dewan Kota. Anggota Dewan Kota dipilih oleh penduduk kota.

Sebenernya pemerintah kota bukanlah dibentuk untuk tujuan utama memenuhi kepentingan pribumi, akan tetapi lebih kepada kepentingan para pengusaha Barat yang sedang menikmati liberalisasi. Karena dampak liberalisasi menjadikan kota sebagai pusat atau konsentrasi ekonomi, baik sebagai pelabuhan ekspor, industri, jasa-jasa perdagangan dan menjadi markas para pengusaha.

Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942.

Di zaman penduduk Jepang (1942-1945), tepatnya Jepang tanggal 16 Februari 1942, Jepang masuk ke kota Palembang. Secara struktural tidak ada perubahan kedudukan kepala kampung. Hanya gelarnya saja yang berubah, yaitu menjadi Ku – Co dan mereka dibawah koordinasi Gun – Co.

Tugasnya dititik beratkan pada pembangunan ekonomi peperangan Jepang. Untuk merapatkan barisan di kalangan penduduk, diperkenalkan suatu sistem lingkungan Jepang, Tonari – Gumi, yaitu Rukun Tetangga yang meliputi setiap 10 rumah di suatu kampung. Tonari – gumi dipimpin oleh seorang Ku – Mi – Co (Ketua RT).

Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI.
Setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A.
Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar.
Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya.
Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.

Dan masih banyak tempat sejarah dan peninggalan sejarah masa lalu yang bisa dijadikan tempat berwisata yang bisa dikunjungi, antara lain museum bukit siguntang, pulau kemarau palembang, makam raja kuno di sabo king king, benteng kuto besak, dan masih banyak lagi jika berkunjung ke daerah pinggiran kota palembang seperti kabupaten lahat dengan bukit jempol, pagaralam dan danau ranai, dan yang terkenal
dikota palembang adalah tenun songket, empek empek, kemplang palembang, dan makanan tradisional lainnya,Demikian sejarah kota palembang yang admin Cybermales sampaikan karena bentar lagi kota palembang akan jadi tuan rumah Islamic Solidarity Games (ISG) ke-3 tahun 2013. semoga bermanfaat.

Minggu, 04 Agustus 2013

Inidia hotel dengan nuansa alam asri yang terbilang unik, kurang lebih namanya hotel Kadir ( Tree Houses Kadir ), hotel dengan rumah pohon paling unik, cocok buat pencinta alam penyuka keindahan alam. Tree Houses Kadir, desa dengan 300 rumah pohon yang terletak di bekas kota Turki kuno Olympos.

hotel kadir

hotel unik

kadir hotel

Tulisan : Joseph Jr Stark ( Blogger )
Website image : http://www.kadirstreehouses.com

Rabu, 24 Juli 2013

Percaya atau tidak, di negara India yang mayoritas penduduknya didominasi oleh ras India ( bangsa Arya dan bangsa Bengali ), ternyata terdapat beberapa kelompok lain yang memiliki ras mongoloid dan percaya atau tidak mereka memiliki postur dan fisik serupa alias mirip dengan orang Asia Tenggara, seperti Indonesia, Filipina dan Malaysia.

Sejarah orang batak sendiri meyakini, bahwa orang Batak berasal dari Yunnan di China Selatan, dan juga ada teori yang mengatakan orang Batak berasal dari daerah Burma atau Formosa. Tapi ada juga yang percaya asal usul orang batak berasal India tepatnya timur laut india.

Suku mizoram India yang mirip suku batak

Di India ada suku bernama suku Mizoram ( Mizo ), suku ini terdiri dari masyarakat pertanian. Yang unik dari suku Mizoram ini, adalah salah satu pakaian tradisional mereka sangat mirip dengan pakaian suku Batak. Kain yang diletak di bahu, sangat mirip dengan ulos nya orang Batak. Juga bahan kain dan cara mereka berpakaian. Selain itu secara karakter suku Mizoram serta beberapa rumah tradisional mereka juga agak mirip dengan rumah tradisional orang Batak.

Suku lain yang mirip suku batak adalah suku mate. Suku adat yang terdapat di Manipur India. Suku Mate tersebar di 3 kabupaten Chandel, Churachandpur dan Senapati di Manipur, dengan 40 desa di wilayah ini. Populasi suku Mate sekitar 10.000 orang. Orang Mate atau suku Mate, juga bisa dikatakan masih mirip dengan orang Batak. Beberapa tradisi dan karakter mereka mirip dengan orang Batak. Suara mereka jika berbicara bernada keras mirip dengan orang Batak.

Mizoram Etnic

Lalu suku Koireng. Menurut sejarah Koireng dikenal sebagai Kolram, tanah Timur yang diyakini sama dengan keadaan Karen dari Burma Timur, kini Myanmar. Pakaian mereka mirip pakaian orang Batak pada era Sisingamangaraja. Kain tradisional mereka juga memiliki bentuk bahan dasar dan corak yang mirip dengan kain tradisional orang Batak.

Kemudian Suku Monsang.
Suku ini terdapat di kabupaten Chandel India. Nama Monsang berasal dari nama desa mereka sendiri, yaitu desa Mosang yang diambil dari bahasa Meitei. Suku Monsang sendiri menyebut diri mereka adalah Sirti ( Selatan ). Suku Monsang tinggal desa Liwachaning, Heibunglok, Liwa Sarei, Japhou dan Mosang Pantha.
Bahasa suku Monsang sama dengan bahasa suku Anal. Mereka juga bisa menggunakan bahasa Meiteilon kalau berkomunikasi dengan suku Tangkhul, suku Maring, suku Thadou dan masyarakat lainnya.

Suku Monsang juga memiliki marga dan silsilah (tarombo) yang mirip dengan orang Batak. Kain tradisional suku Monsang juga mirip dengan kain tradisional orang Batak. Dan selain itu salah satu tariannya ada yang mirip dengan tarian suku Batak seperti Tortor.


Selasa, 25 Juni 2013

Nama asli pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

tarian gending sriwijaya cybermales
Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib ( tepatnya: Suwarandib ), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.

Arti kata Palembang = Pelimbangan = ( pelimbang emas ) = swarnadwipha ( sanskerta ) = pulau emas
Rasanya tidak berlebihan ungkapan tersebut karena sampai sekarang sumatera selatan = palembang merupakan provinsi paling komplet soal kekayaan alamnya, semua ada di bumi sriwijaya.

Sekilas tentang kerajaan sriwijaya ( palembang )

Ilmu Pengetahuan Mengenai Sejarah Kerajaan Sriwijaya Baru Lahir Pada Permulaan Abad Ke-20 M, Ketika George Coedes Menulis Sebuah Karangannya Mengenai Kerajaan Sriwijaya Berjudul Le Royaume De Crivijaya Pada Tahun 1918 M. Sebenarnya, Lima Tahun Sebelum Itu, Yaitu Pada Tahun 1913 M, Kern Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota Kapur, Sebuah Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di Pulau Bangka.

Namun Saat Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan Sriwijaya Yang Tercantum Pada Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang Raja, Karena Cri Biasanya Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja. Pada Tahun 1896 M, Sarjana Jepang Takakusu Menerjemahkan Karya I-Tsing, Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai Fa-Chan Ke Dalam Bahasa Inggris Dengan Judul A Record Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay Archipelago.

Namun, Dalam Buku Tersebut Tidak Terdapat Nama Kerajaan Sriwijaya, Yang Ada Hanya Shih-Li-Fo-Shih. Dari Terjemahan Prasasti Kota Kapur Yang Memuat Nama Kerajaan Sriwijaya Dan Karya I-Tsing Yang Memuat Nama Shih-Li-Fo-Shih, Coedes Kemudian Menetapkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di Sumatera Selatan.

Banyak Dugaan Bahwa Awal Masuknya Agama Buddha Ke Indonesia Adalah Pada Kedatangan Aji Saka Ke Tanah Jawa Pada Awal Abad Kesatu. Dugaan Ini Berawal Dari Etimologis Terhadap Kata Aji Saka Itu Sendiri, Serta Hal-Hal Yang Berkaitan Dengannya. Kata " Aji " Dalam Bahasa Kawi Bisa Berarti Ilmu Yang Ada Hubungannya Dengan Kitab Suci, Sedangkan " Saka " Ditafsirkan Sebagai Kata Sakya Yang Mengalami Transformasi.

prasati bukit siguntang mahameru
Dengan Demikian Mungkin Kata Aji Saka Ditafsirkan Sebagai Gelar Raja Tritustha Yang Ahli Mengenai Kitab Suci Sakya, Dalam Hal Ini Ahli Tentang Buddha Dhamma, Selain Dianggap Sebagai Orang Yang Bertanggung Jawab Terhadap Pembuatan Aksara Jawa. Bila Hal Ini Benar, Tarikh Saka Yang Permulaanya Dinyatakan Sebagai " Nir Wuk Tanpa Jalu " [ Nir Berarti Kosong [ 0 ], Wuk Berarti Tidak Jadi [ 0 ], Tanpa Berarti 0 Dan Jalu Sama Dengan 1 ] Yang Sekaligus Dimaksudkan Untuk Mengabadikan Pendaratan Pertama Aji Saka Di Jepara.

Lebih Lanjut, Coedes Juga Menetapkan Bahwa, Letak Ibukota Kerajaan Sriwijaya Adalah Palembang, Dengan Bersandar Pada Anggapan Groeneveldt Dalam Karangannya, Notes On The Malay Archipelago And Malacca, Compiled From Chinese Source, Yang Menyatakan Bahwa, San-Fo-Tsi Adalah Palembang.
Sumber Lain Yang Juga Menunjukan Hal Yang Sama, Yaitu Beal Mengemukakan Pendapatnya Pada Tahun 1886 Bahwa, Shih-Li-Fo-Shih Merupakan Suatu Daerah Yang Terletak Di Tepi Sungai Musi, Dekat Kota Palembang Sekarang. Dari Pendapat Ini, Kemudian Muncul Suatu Kecenderungan Di Kalangan Sejarawan Untuk Menganggap Palembang Sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya.

Banyak Sumber Pengetahuan Kita Tentang Agama Buddha Diambil Dari Prasasti Yang Ditemukan Dan Dari Catatan-Catatan Luar Negri, Yaitu Dari Orang China Yang Mengunjungi Indonesia. Prasasti Yang Berasal Dari Abad Kelima Hingga Ketujuh Tidak Terlalu Banyak Memberikan Informasi. Prasasti Itu Berasal Dari Kalimantan, Sumatra Dan Jawa.

Dari Prasasti Itu Kita Hanya Mengetahui Bahwa Pada Waktu Itu Ada Raja-Raja Yang Memiliki Nama Yang Berbau India, Seperti Mulawarman Di Kutti Dan Purnawarman Di Jawa-Barat. Tetapi Hal Itu Tidak Berarti Bahwa Raja Tersebut Berasal Dari India. Yang Paling Mungkin Adalah Raja-Raja Tersebut Adalah Orang Indonesia Asli Yang Sudah Masuk Agama Yang Datang Dari India. Selanjutnya Prasasti Tersebut Menunjukan Bahwa Agama Yang Dipeluk Adalah Agama Hindu. Tapi Dari Penemuan Patung-Patung Buddha, Dapat Disimpulkan Bahwa Agama Buddha Juga Sudah Ada, Walaupun Jumlahnya Masih Sedikit.

Sumber Lain Yang Mendukung Keberadaan Palembang Sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya Adalah Prasasti Telaga Batu. Prasasti Ini Berbentuk Batu Lempeng Mendekati Segi Lima, Di Atasnya Ada Tujuh Kepala Ular Kobra, Dengan Sebentuk Mangkuk Kecil Dengan Cerat [ Mulut Kecil Tempat Keluar Air ] Di Bawahnya. Menurut Para Arkeolog, Prasasti Ini Digunakan Untuk Pelaksanaan Upacara Sumpah Kesetiaan Dan Kepatuhan Para Calon Pejabat Di Kerajaan Sriwijaya.


Dalam Prosesi Itu, Pejabat Yang Disumpah Meminum Air Yang Dialirkan Ke Batu Dan Keluar Melalui Cerat Tersebut. Sebagai Sarana Untuk Upacara Persumpahan, Prasasti Seperti Itu Biasanya Ditempatkan Di Pusat Kerajaan. Karena Ditemukan Di Sekitar Palembang Pada Tahun 1918 M, Maka Diduga Kuat Palembang Merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya,

Beberapa Ahli Mengatakan Bahwa Ye-Po-Ti Adalah Jawa [ Javadvipa ]. Fah-Hien Menyebutkan Ada Umat Buddha Di Ye-Po-Ti, Walaupun Cuma Sedikit. Sekalipun Demikian Agaknya Sesudah Abad Kelima Keadaan Berubah. Tidak Sampai Tiga Ratus Tahun Kemudian, Pada Akhir Abad Ketujuh, Biksu China I-Tsing Mencatat Dengan Lengkap Agama Buddha Dan Aplikasinya Di India Dan Melayu.

Ketertarikan Utamanya Adalah Pada " Rumah Agama Buddha " India Utara Dimana I-Tsing Tinggal Dan Belajar Disana Selama Lebih Dari Sepuluh Tahun. Dari Catatannya Dapat Dikatakan Bahwa Agama Buddha Di India Dan Sumatra Mempunyai Banyak Kesamaan, Dimana I-Tsing Juga Menemukan Perbedaan Antara Agama Buddha Di China Dan Di India. I-Tsing Menghabiskan Waktunya Hidup Sendirian Sebagai Biksu Di India Dan Sumatra. Seluruh Bukunya Merupakan Catatan Lengkap Tentang Kehidupan Biarawan. Ia Tinggal Di India Seluruhnya Berdasarkan Peraturan Vinnaya.

Bila Dibandingkan Catatan Fah-Hien Tahun 414 Dengan Catatan I-Tsing, Dapat Diambil Kesimpulan Bahwa Agama Buddha Dipulau Jawa Dan Sumatra Telah Dibangun Dengan Sangat Cepat. Pekerjaan I-Tsing Selain Menulis Catatan Seperti Dikemukakan Diatas, Ia Juga Menulis Buku Tentang Perjalanan Seorang Guru Agama Terkenal Yang Pergi Ke Negri Disebelah Barat [ Kerajaan Sriwijaya ? ].

Diceritakannya Pada Catatannya Itu, Kehidupan Biarawan Yang Pada Intinya Hampir Sama Dengan Yang Ada Di India. Dalam Bukunya Dikatakan Bahwa Biksu Asli Jawa Dan Sumatra Adalah Sarjana Sanskrit Yang Sangat Bagus. Salah Saatunya Adalah Jnanabhadra Yang Merupakan Orang Jawa Asli Yang Tinggal Di Sumatra Dan Bertindak Sebagai Guru Bagi Biksu China Dan Membantu Menterjemahkan Sutra Kedalam Bahasa China. Bahasa Yang Digunakan Oleh Biksu Buddha Adalah Bahasa Sanskrit.

Bahasa Pali Tidak Digunakan. Bagaimanapun Hal Ini Tidak Boleh Dijadikan Patokan Bahwa Agama Buddha Yang Berkembang Disini Adalah Mahayana. I-Tsing Menjelaskan Dalam Bukunya. Agama Buddha Dipeluk Diseluruh Negri Ini Dan Kebanyakan Sistem Yang Diadopsi Adalah Hinayana, Kecuali Di Melayu Dimana Ada Sedikit Yang Mengadopsi Mahayana. Sudah Banyak Diketahui Umum Bahwa Literatur Agama Buddha Berbahasa Sanskrit Tidak Melulu Berarti Mahayana.

Inilah Bentuk Agama Buddha Yang Mencapai Kepulauan Di Laut Selatan. I-Tsing Mengatakan Di Kepulauan Di Laut Selatan, Mulasarvastivadanikayo Hampir Secara Universal Di Adaptasi. I-Tsing Tampaknya Tidak Mempermasalahkan Perbedaan Antara Penganut Hinayana Dan Mahayana. Dikatakannya :
Mereka Yang Menyembah Bodhisatta Dan Membaca Sutra Mahayana Disebut Penganut Mahayana. Sementara Yang Tidak Disebut Penganut Hinayana. Kedua Sistem Ini Sesuai Dengan Ajaran Dhamma.

Dapatkah Kita Katakan Mana Yang Benar? Keduanya Mengajarkan Kebajikan Dan Membimbing Kita Ke Nirvana. Keduanya Menuju Kepada Pemusnahan Nafsu Dan Penyelamatan Semua Mahluk Hidup. Kita Tidak Boleh Mempersoalkan Perbedaan Ini. Membuat Keraguan Yang Malah Akan Membuat Kebingungan. Dari Karya-Karyanya Dapat Dikatakan Bahwa I-Tsing Tidaklah Terlalu Dalam Bergelut Dalam Masalah Filosofi Buddhis Tetapi Hanya Tertarik Pada Kehidupan Biarawan Dan Tugas-Tugas Yang Diemban Oleh Mereka. Dengan Kata Lain, Ia Memberikan Seluruh Waktunya Untuk Belajar Vinnaya Dan Kehidupan Biarawan
Sebagai Pusat Kerajaan, Kondisi Palembang Ketika Itu Bersifat Mendesa [ Rural ], Tidak Seperti Pusat-Pusat Kerajaan Lain Yang Ditemukan Di Wilayah Asia Tenggara Daratan, Seperti Di Thailand, Kamboja, Dan Myanmar. Bahan Utama Yang Dipakai Untuk Membuat Bangunan Di Pusat Kota Kerajaan Sriwijaya Adalah Kayu Atau Bambu Yang Mudah Didapatkan Di Sekitarnya. Oleh Karena Bahan Itu Mudah Rusak Termakan Zaman, Maka Tidak Ada Sisa Bangunan Yang Dapat Ditemukan Lagi.

Kalaupun Ada, Sisa Pemukiman Dengan Konstruksi Kayu Tersebut Hanya Dapat Ditemukan Di Daerah Rawa Atau Tepian Sungai Yang Terendam Air, Bukan Di Pusat Kota, Seperti Di Situs Ujung Plancu, Kabupaten Batanghari, Jambi. Memang Ada Bangunan Yang Dibuat Dari Bahan Bata Atau Batu, Tapi Hanya Bangunan Sakral [ Keagamaan ], Seperti Yang Ditemukan Di Palembang, Di Situs Gedingsuro, Candi Angsoka, Dan Bukit Siguntang, Yang Terbuat Dari Bata. Sayang Sekali, Sisa Bangunan Yang Ditemukan Tersebut Hanya Bagian Pondasinya Saja.

Seiring Perkembangan, Semakin Banyak Ditemukan Data Sejarah Berkenaan Dengan Kerajaan Sriwijaya. Selain Prasasti Kota Kapur, Juga Ditemukan Prasasti Karang Berahi [ Ditemukan Tahun 1904 M ], Telaga Batu [ Ditemukan Tahun 1918 M ], Kedukan Bukit [ Ditemukan Tahun 1920 M ] Talang Tuo [ Ditemukan Tahun 1920 M ] Dan Boom Baru.

Di Antara Prasasti Di Atas, Prasasti Kota Kapur Merupakan Yang Paling Tua, Bertarikh 682 M, Menceritakan Tentang Kisah Perjalanan Suci Dapunta Hyang Dari Minanga Dengan Perahu, Bersama Dua Laksa [ 20.000 ] Tentara Dan 200 Peti Perbekalan, Serta 1.213 Tentara Yang Berjalan Kaki. Perjalanan Ini Berakhir Di Mukha-P. Di Tempat Tersebut, Dapunta Hyang Kemudian Mendirikan Wanua [ Perkampungan ] Yang Diberi Nama Kerajaan Sriwijaya.

Dalam Prasasti Talang Tuo Yang Bertarikh 684 M, Disebutkan Mengenai Pembangunan Taman Oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa Untuk Semua Makhluk, Yang Diberi Nama Sriksetra. Dalam Taman Tersebut, Terdapat Pohon-Pohon Yang Buahnya Dapat Dimakan. Data Tersebut Semakin Lengkap Dengan Adanya Berita Cina Dan Arab. Sumber Cina Yang Paling Sering Dikutip Adalah Catatan I-Tsing.

Ia Merupakan Seorang Peziarah Budha Dari China Yang Telah Mengunjungi Kerajaan Sriwijaya Beberapa Kali Dan Sempat Bermukim Beberapa Lama. Kunjungan I-Sting Pertama Adalah Tahun 671 M. Dalam Catatannya Disebutkan Bahwa, Saat Itu Terdapat Lebih Dari Seribu Orang Pendeta Budha Di Kerajaan Sriwijaya. Aturan Dan Upacara Para Pendeta Budha Tersebut Sama Dengan Aturan Dan Upacara Yang Dilakukan Oleh Para Pendeta Budha Di India
I-Tsing Tinggal Selama 6 Bulan Di Kerajaan Sriwijaya Untuk Belajar Bahasa Sansekerta, Setelah Itu, Baru Ia Berangkat Ke Nalanda, India. Setelah Lama Belajar Di Nalanda, I-Tsing Kembali Ke Kerajaan Sriwijaya Pada Tahun 685 Dan Tinggal Selama Beberapa Tahun Untuk Menerjemahkan Teks-Teks Budha Dari Bahasa Sansekerta Ke Bahasa Cina. Catatan Cina Yang Lain Menyebutkan Tentang Utusan Kerajaan Sriwijaya Yang Datang Secara Rutin Ke Cina, Yang Terakhir Adalah Tahun 988 M.

Dalam Sumber Lain, Yaitu Catatan Arab, Kerajaan Sriwijaya Disebut Sribuza. Masudi, Seorang Sejarawan Arab Klasik Menulis Catatan Tentang Kerajaan Sriwijaya Pada Tahun 955 M. Dalam Catatan Itu, Digambarkan Kerajaan Sriwijaya Merupakan Sebuah Kerajaan Besar, Dengan Tentara Yang Sangat Banyak.

Hasil Bumi Kerajaan Sriwijaya Adalah Kapur Barus, Kayu Gaharu, Cengkeh, Kayu Cendana, Pala, Kardamunggu, Gambir Dan Beberapa Hasil Bumi Lainya. Dari Catatan Asing Tersebut, Bisa Diketahui Bahwa Kerajaan Sriwijaya Merupakan Kerajaan Besar Pada Masanya, Dengan Wilayah Dan Relasi Dagang Yang Luas Sampai Ke Madagaskar.

Sejumlah Bukti Lain Berupa Arca, Stupika, Maupun Prasasti Lainnya Semakin Menegaskan Bahwa, Pada Masanya Kerajaan Sriwijaya Adalah Kerajaan Yang Mempunyai Komunikasi Yang Baik Dengan Para Saudagar Dan Pendeta Di Cina, India Dan Arab. Hal Ini Hanya Mungkin Bisa Dilakukan Oleh Sebuah Kerajaan Yang Besar, Berpengaruh, Dan Diperhitungkan Di Kawasannya.

Seperti Dikemukakan Diatas, Di Sumatra Dan Jawa Lebih Berkembang Hinayana. I-Tsing Menceritakan Bahwa Di Melayu, Ditengah-Tengah Pesisir Timur Sumatra Ada Pula Yang Menganut Mahayana. Dari Sumber Lain Dijelaskan Bahwa Sebelum Kedatangan I-Tsing, Telah Datang Biksu Dari India Dharmapala, Ke Melayu Dan Menyebarkan Aliran Mahayana.

Awal Abad Ke-20, Dua Prasasti Ditemukan Di Dekat Palembang Yang Bercorak Mahayana. Prasasti Lain Yang Dibuat Tahun 775, Ditemukan Di Viengsa, Semenanjung Melayu Mengemukakan Bahwa Salah Satu Raja Kerajaan Sriwijaya Dari Keturunan Syailendra - Yang Tidak Cuma Memerintah Di Selatan Sumatra Tapi Juga Dibagian Selatan Semenanjung Melayu - Memerintahkan Pembangunan Tiga Stupa. Ketiga Stupa Tersebut Dipersembahkan Kepada Buddha, Bodhisatwa Avalokitesvara Dan Vajrapani. Dan Ditempat Lain Ditemukan Plat Emas Yang Bertuliskan Beberapa Nama Dyani Buddha, Yang Jelas-Jelas Merupakan Aliran Mahayana.

Dari Berita I-Tsing Itu Selanjutnya Kita Dapat Mengambil Kesimpulan Bahwa Pada Waktu Itu Kerajaan Sriwijaya Menjadi Pusat Agama Buddha. Disana Terdapat Sebuah Perguruan Tinggi Buddha Yang Tidak Kalah Dengan Perguruan Yang Ada Di Nalanda India. Ada Lebih Dari 1000 Biksu Yang Ajaran Serta Tata Upacaranya Sama Dengan Yang Ada Di India.

Kecuali Pengikut Hinayana, Di Kerajaan Sriwijaya Juga Terdapat Pengikut Mahayana. Bahkan Ada Guru Mahayana Yang Mengajar Disitu. Dari Berita Ini Jelas Bahwa Kerajaan Sriwijaya Adalah Pusat Agama Buddha Mahayana, Yang Terbuka Bagi Gagasan Baru Dan Yang Juga Senang Mengadakan Pekerjaan Ilmiah. Oleh Karena Itu Musafir China Yang Ingin Belajar Di India Pasti Singgah Di Kerajaan Sriwijaya Untuk Mengadakan Persiapan. Hal Itu Juga Dilakukan Oleh I-Tsing Sendiri.

PALEMBANG PUSAT KERAJAAN SRIWIJAYA

Pada Tahun 1913 M, Kern Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota Kapur, Sebuah Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di Pulau Bangka. Namun Saat Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan Sriwijaya Yang Tercantum Pada Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang Raja, Karena Cri Biasanya Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja.
George Coedes Dalam Tulisannya Mengenai Kerajaan Sriwijaya Berjudul Le Royaume De Crivijaya Pada Tahun 1918 M, Menetapkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di Sumatera Selatan.

BKB benteng kuto besak
Sarjana Jepang Takakusu Menerjemahkan Karya I-Tsing, Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai Fa-Chan Ke Dalam Bahasa Inggris Dengan Judul A Record Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay Archipelago. Namun, Dalam Buku Tersebut Tidak Terdapat Nama Kerajaan Sriwijaya, Yang Ada Hanya Shih-Li-Fo-Shih. Dari Terjemahan Prasasti Kota Kapur Yang Memuat Nama Kerajaan Sriwijaya Dan Karya I-Tsing Yang Memuat Nama Shih-Li-Fo-Shih, Coedes Kemudian Menetapkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di Sumatera Selatan.

Lebih Lanjut, Coedes Juga Menetapkan Bahwa, Letak Ibukota Kerajaan Sriwijaya Adalah Palembang, Dengan Bersandar Pada Anggapan Groeneveldt Dalam Karangannya, Notes On The Malay Archipelago And Malacca, Compiled From Chinese Source, Yang Menyatakan Bahwa, San-Fo-Tsi Adalah Palembang. Sumber Lain, Yaitu Beal Mengemukakan Pendapatnya Pada Tahun 1886 Bahwa, Shih-Li-Fo-Shih Merupakan Suatu Daerah Yang Terletak Di Tepi Sungai Musi, Dekat Kota Palembang Sekarang. Dari Pendapat Ini, Kemudian Muncul Suatu Kecenderungan Di Kalangan Sejarawan Untuk Menganggap Palembang Sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya.

Sumber Lain Yang Mendukung Keberadaan Palembang Sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya Adalah Prasasti Telaga Batu. Prasasti Ini Berbentuk Batu Lempeng Mendekati Segi Lima, Di Atasnya Ada Tujuh Kepala Ular Kobra, Dengan Sebentuk Mangkuk Kecil Dengan Cerat [ Mulut Kecil Tempat Keluar Air ] Di Bawahnya. Menurut Para Arkeolog, Prasasti Ini Digunakan Untuk Pelaksanaan Upacara Sumpah Kesetiaan Dan Kepatuhan Para Calon Pejabat Di Kerajaan Sriwijaya. Dalam Prosesi Itu, Pejabat Yang Disumpah Meminum Air Yang Dialirkan Ke Batu Dan Keluar Melalui Cerat Tersebut. Sebagai Sarana Untuk Upacara Persumpahan, Prasasti Seperti Itu Biasanya Ditempatkan Di Pusat Kerajaan. Karena Ditemukan Di Sekitar Palembang Pada Tahun 1918 M, Maka Diduga Kuat Palembang Merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya.

Petunjuk Lain Yang Menyatakan Bahwa Palembang Merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya Juga Diperoleh Dari Hasil Temuan Barang-Barang Keramik Dan Tembikar Di Situs Talang Kikim, Tanjung Rawa, Bukit Siguntang Dan Kambang Unglen, Semuanya Di Daerah Palembang. Keramik Dan Tembikar Tersebut Merupakan Alat Yang Digunakan Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Temuan Ini Menunjukkan Bahwa, Pada Masa Dulu, Di Palembang Terdapat Pemukiman Kuno. Dugaan Ini Semakin Kuat Dengan Hasil Interpretasi Foto Udara Di Daerah Sebelah Barat Kota Palembang, Yang Menggambarkan Bentuk-Bentuk Kolam Dan Kanal. Kolam Dan Kanal-Kanal Yang Bentuknya Teratur Itu Kemungkinan Besar Buatan Manusia, Bukan Hasil Dari Proses Alami. Dari Hasil Temuan Keramik Dan Kanal-Kanal Ini, Maka Dugaan Para Arkeolog Bahwa Palembang Merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya Semakin Kuat.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Diantaranya Adalah Prasasti Kota Kapur, Sebuah Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di Pulau Bangka. Kern Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota Kapur, Namun Saat Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan Sriwijaya Yang Tercantum Pada Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang Raja, Karena Cri Biasanya Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Lain Adalah Prasasti Telaga Batu. Prasasti Telaga Batu Berbentuk Batu Lempeng Mendekati Segi Lima, Di Atasnya Ada Tujuh Kepala Ular Kobra, Dengan Sebentuk Mangkuk Kecil Dengan Cerat [ Mulut Kecil Tempat Keluar Air ] Di Bawahnya. Menurut Para Arkeolog, Prasasti Ini Digunakan Untuk Pelaksanaan Upacara Sumpah Kesetiaan Dan Kepatuhan Para Calon Pejabat Di Kerajaan Sriwijaya. Dalam Prosesi Itu, Pejabat Yang Disumpah Meminum Air Yang Dialirkan Ke Batu Dan Keluar Melalui Cerat Tersebut. Sebagai Sarana Untuk Upacara Persumpahan, Prasasti Seperti Itu Biasanya Ditempatkan Di Pusat Kerajaan. Karena Ditemukan Di Sekitar Palembang Pada Tahun 1918 M, Maka Diduga Kuat Palembang Merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya.

Masih Ada Lagi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Lainnya, Yaitu Barang-Barang Keramik Dan Tembikar. Peninggalan Berupa Barang-Barang Keramik Dan Tembikar Ini Ditemukan Di Situs Talang Kikim, Tanjung Rawa, Bukit Siguntang Dan Kambang Unglen. Kesemuanya Di Daerah Palembang. Keramik Dan Tembikar Tersebut Merupakan Alat Yang Digunakan Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Temuan Ini Menunjukkan Bahwa, Pada Masa Dulu, Di Palembang Terdapat Pemukiman Kuno. Dugaan Ini Semakin Kuat Dengan Hasil Interpretasi Foto Udara Di Daerah Sebelah Barat Kota Palembang, Yang Menggambarkan Bentuk-Bentuk Kolam Dan Kanal. Kolam Dan Kanal-Kanal Yang Bentuknya Teratur Itu Kemungkinan Besar Buatan Manusia, Bukan Hasil Dari Proses Alami.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Berupa Prasasti Selain Prasasti Kota Kapur Adalah Prasasti Karang Berahi [ Ditemukan Tahun 1904 M ], Prasasti Telaga Batu [ Ditemukan Tahun 1918 M ], Prasasti Kedukan Bukit [ Ditemukan Tahun 1920 M ], Prasasti Talang Tuo [ Ditemukan Tahun 1920 M ] Dan Boom Baru. Di Antara Prasasti Di Atas, Prasasti Kota Kapur Merupakan Yang Paling Tua, Berangka Tahun 682 M, Menceritakan Tentang Kisah Perjalanan Suci Dapunta Hyang Dari Minanga Dengan Perahu, Bersama Dua Laksa [ 20.000 ] Tentara Dan 200 Peti Perbekalan, Serta 1.213 Tentara Yang Berjalan Kaki. Perjalanan Ini Berakhir Di Mukha-P. Di Tempat Tersebut, Dapunta Hyang Kemudian Mendirikan Wanua [ Perkampungan ] Yang Diberi Nama Sriwijaya.

Dalam Prasasti Talang Tuo Yang Bertarikh 684 M, Disebutkan Mengenai Pembangunan Taman Oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa Untuk Semua Makhluk, Yang Diberi Nama Sriksetra. Dalam Taman Tersebut, Terdapat Pohon-Pohon Yang Buahnya Dapat Dimakan.

Dari Prasasti Kota Kapur Yang Ditemukan JK Van Der Meulen Di Pulau Bangka Pada Bulan Desember 1892 M, Diperoleh Petunjuk Mengenai Kerajaan Sriwijaya Yang Sedang Berusaha Menaklukkan Bumi Jawa. Meskipun Tidak Dijelaskan Wilayah Mana Yang Dimaksud Dengan Bhumi Jawa Dalam Prasasti Itu, Beberapa Arkeolog Meyakini, Yang Dimaksud Bhumi Jawa Itu Adalah Kerajaan Tarumanegara Di Pantai Utara Jawa Barat. Selain Dari Isi Prasasti, Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Juga Bisa Diketahui Dari Persebaran Lokasi Prasasti-Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Tersebut. Di Daerah Lampung Ditemukan Prasasti Palas Pasemah, Di Jambi Ada Karang Berahi, Di Bangka Ada Kota Kapur, Di Riau Ada Muara Takus. Semua Ini Menunjukkan Bahwa, Daerah-Daerah Tersebut Pernah Dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Sumber Lain Ada Yang Mengatakan Bahwa, Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Sebenarnya Mencapai Philipina. Ini Merupakan Bukti Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Pernah Menguasai Sebagian Besar Wilayah Nusantara.

Dalam Relasinya Dengan India, Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya Bukan Saja Membangun Prasasti Di Wilayah Kerajaan Sriwijaya, Tetapi Juga Membangun Bangunan Suci Agama Budha Di India. Fakta Ini Tercantum Dalam Dua Buah Prasasti, Yaitu Prasasti Raja Dewapaladewa Dari Nalanda, Yang Diperkirakan Berasal Dari Abad Ke-9 M, Dan Prasasti Raja Rajaraja I Yang Berangka Tahun 1044 M Dan 1046 M. Prasasti Prasasti Raja Dewapaladewa Dari Nalanda Menyebutkan Tentang Raja Balaputradewa Dari Suwarnadwipa [ Kerajaan Sriwijaya ] Yang Membangun Sebuah Biara. Sementara Prasasti Raja Rajaraja I Menyebutkan Tentang Raja Kataha Dan Kerajaan Sriwijaya, Marawijayayottunggawarman Yang Memberi Hadiah Sebuah Desa Untuk Dipersembahkan Kepada Sang Buddha Yang Berada Dalam Biara Cudamaniwarna, Nagipattana, India.

Salah Satu Catatan Tentang Kerajaan Sriwijaya Adalah Catatan Perjalanan I-Tsing. Dalam Catatan I-Tsing Ini Disebutkan Bahwa, Pada Saat Itu, Di Kerajaan Sriwijaya Terdapat Seribu Pendeta. Dalam Perjalanan Pertamanya, I-Tsing Sempat Bermukim Selama Enam Bulan Di Kerajaan Sriwijaya Untuk Mendalami Bahasa Sansekerta. I-Tsing Juga Menganjurkan, Jika Seorang Pendeta Cina Ingin Belajar Ke India, Sebaiknya Belajar Dulu Setahun Atau Dua Tahun Di Fo-Shih [ Palembang ], Baru Kemudian Belajar Di India.

Sepulangnya Dari Nalanda, I-Tsing Menetap Di Kerajaan Sriwijaya Selama Tujuh Tahun [ 688-695 M ] Dan Menghasilkan Dua Karya Besar Yaitu Ta T'Ang Si-Yu-Ku-Fa-Kao-Seng-Chuan Dan Nan-Hai-Chi-Kuei-Nei-Fa-Chuan [ A Record Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay Archipelago ] Yang Selesai Ditulis Pada Tahun 692 M. Ini Menunjukkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Merupakan Salah Satu Pusat Agama Budha Yang Penting Pada Saat Itu.

Selain Itu, Hal Penting Lain Yang Juga Termuat Dalam Catatan I-Tsing, Adalah Ketertarikan Utamanya Adalah Pada " Rumah Agama Buddha " India Utara Dimana I-Tsing Tinggal Dan Belajar Disana Selama Lebih Dari Sepuluh Tahun. Dari Catatannya Dapat Dikatakan Bahwa Agama Buddha Di India Dan Sumatra Mempunyai Banyak Kesamaan, Dimana I-Tsing Juga Menemukan Perbedaan Antara Agama Buddha Di China Dan Di India. I-Tsing Menghabiskan Waktunya Hidup Sendirian Sebagai Biksu Di India Dan Sumatra.

Dalam Catatannya Disebutkan Bahwa, Saat Itu Terdapat Lebih Dari Seribu Orang Pendeta Budha Di Kerajaan Sriwijaya. Aturan Dan Upacara Para Pendeta Budha Tersebut Sama Dengan Aturan Dan Upacara Yang Dilakukan Oleh Para Pendeta Budha Di India. I-Tsing Tinggal Selama 6 Bulan Di Kerajaan Sriwijaya Untuk Belajar Bahasa Sansekerta, Setelah Itu, Baru Ia Berangkat Ke Nalanda, India. Setelah Lama Belajar Di Nalanda, I-Tsing Kembali Ke Kerajaan Sriwijaya Pada Tahun 685 Dan Tinggal Selama Beberapa Tahun Untuk Menerjemahkan Teks-Teks Budha Dari Bahasa Sansekerta Ke Bahasa Cina. Seluruh Bukunya Merupakan Catatan Lengkap Tentang Kehidupan Biarawan. Ia Tinggal Di India Seluruhnya Berdasarkan Peraturan Vinnaya.

Catatan Lainnya Tentang Kerajaan Sriwijaya Adalah Karangan George Coedes. Dalam Catatan George Coedes Tersebut, Ia Menulis Karangannya Mengenai Kerajaan Sriwijaya Yang " Berjudul Le Royaume De Crivijaya " Pada Tahun 1918 M.

Catatan Lain Tentang Kerajaan Sriwijaya Adalah Catatan Kern. Lima Tahun Sebelum George Coedes Menyelesaikan Karangannya, Yaitu Pada Tahun 1913 M, Kern Telah Menerbitkan Tulisan Tentang Prasasti Kota Kapur, Sebuah Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Ditemukan Di Pulau Bangka. Namun Saat Itu, Kern Masih Menganggap Nama Kerajaan Sriwijaya Yang Tercantum Pada Prasasti Tersebut Sebagai Nama Seorang Raja, Karena Cri Biasanya Digunakan Sebagai Sebutan Atau Gelar Raja.

Disamping Catatan Ada Juga Karya Terjemahan Tentang Kerajaan Sriwijaya. Pada Tahun 1896 M, Sarjana Jepang Takakusu Menerjemahkan Karya I-Tsing, Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai Fa-Chan Ke Dalam Bahasa Inggris Dengan Judul [ A Record Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay Archipelago ]. Namun, Dalam Buku Tersebut Tidak Terdapat Nama Kerajaan Sriwijaya, Yang Ada Hanya Shih-Li-Fo-Shih.

Dari Terjemahan Prasasti Kota Kapur Yang Memuat Nama Kerajaan Sriwijaya Dan Karya I-Tsing Yang Memuat Nama Shih-Li-Fo-Shih, Coedes Kemudian Menetapkan Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Adalah Nama Sebuah Kerajaan Di Sumatera Selatan.

Sumber Catatan Lain Tentang Kerajaan Sriwijaya, Yaitu Catatan Seorang Sejarawan Arab, Kerajaan Sriwijaya Disebut Sribuza. Masudi, Seorang Sejarawan Arab Klasik Menulis Catatan Tentang Kerajaan Sriwijaya Pada Tahun 955 M. Dalam Catatan Itu, Digambarkan Kerajaan Sriwijaya Merupakan Sebuah Kerajaan Besar, Dengan Tentara Yang Sangat Banyak. Hasil Bumi Kerajaan Sriwijaya Adalah Kapur Barus, Kayu Gaharu, Cengkeh, Kayu Cendana, Pala, Kardamunggu, Gambir Dan Beberapa Hasil Bumi Lainya.

Dari Catatan Asing Tersebut, Bisa Diketahui Bahwa Kerajaan Sriwijaya Merupakan Kerajaan Besar Pada Masanya, Dengan Wilayah Dan Relasi Dagang Yang Luas Sampai Ke Madagaskar. Sejumlah Bukti Lain Berupa Arca, Stupika, Maupun Prasasti Lainnya Semakin Menegaskan Bahwa, Pada Masanya Kerajaan Sriwijaya Adalah Kerajaan Yang Mempunyai Komunikasi Yang Baik Dengan Para Saudagar Dan Pendeta Di Cina, India Dan Arab. Hal Ini Hanya Mungkin Bisa Dilakukan Oleh Sebuah Kerajaan Yang Besar, Berpengaruh, Dan Diperhitungkan Di Kawasannya.

Explorer  SRIWIJAYA

Salah Satu Cara Untuk Memperluas Pengaruh Kerajaan Sriwijaya Adalah Dengan Melakukan Perkawinan Dengan Kerajaan Lain. Hal Ini Juga Dilakukan Oleh Penguasa Kerajaan Sriwijaya. Dapunta Hyang Yang Berkuasa Sejak 664 M, Melakukan Pernikahan Dengan Sobakancana, Putri Kedua Raja Kerajaan Tarumanegara, Linggawarman. Perkawinan Ini Melahirkan Seorang Putra Yang Menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya Berikutnya: Dharma Setu. Dharma Setu Kemudian Memiliki Putri Yang Bernama Dewi Tara. Putri Ini Kemudian Ia Nikahkan Dengan Samaratungga, Raja Kerajaan Mataram Kuno Dari Dinasti Syailendra. Dari Pernikahan Dewi Setu Dengan Samaratungga, Kemudian Lahir Bala Putra Dewa Yang Menjadi Raja Di Kerajaan Sriwijaya Dari 833 Hingga 856 M.

Silsilah Raja Kerajaan SRIWIJAYA

Dapunta Hyang Sri Yayanaga [ Prasasti Kedukan Bukit 683, Talang Tuo, 684 ].
1. Cri Indrawarman [ Berita Cina, Tahun 724 ].
2. Rudrawikrama [ Berita Cina, Tahun 728, 742 ].
3. Wishnu [ Prasasti Ligor, 775 ].
4. Maharaja [ Berita Arab, Tahun 851 ].
5. Balaputradewa [ Prasasti Nalanda, 860 ].
6. Cri Udayadityawarman [ Berita Cina, Tahun 960 ].
7. Cri Udayaditya [ Berita Cina, Tahun 962 ].
8. Cri Cudamaniwarmadewa [ Berita Cina, Tahun 1003, Prasasti Leiden, 1044.
9. Maraviyayatunggawarman [ Prasasti Leiden, 1044 ].
10. Cri Sanggaramawijayatunggawarman [ Prasasti Chola, 1044 ].

Masa Kejayaan SRIWIJAYA

Kerajaan Sriwijaya Berkuasa Dari Abad Ke-7 Hingga Awal Abad Ke-13 M, Dan Kerajaan Sriwijaya Mencapai Zaman Keemasan Di Jaman Pemerintahan Balaputra Dewa [ 833-856 M ]. Kemunduran Kerajaan Sriwijaya Ini Berkaitan Dengan Masuk Dan Berkembangnya Agama Islam Di Sumatera, Dan Munculnya Kekuatan Singosari Dan Majapahit Sebagai Kekuatan Tandingan Di Pulau Jawa. Dalam Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sriwijaya Menguasai Bagian Barat Nusantara. Salah Satu Faktor Yang Menyebabkan Kerajaan Sriwijaya Bisa Menguasai Seluruh Bagian Barat Nusantara Adalah Runtuhnya Kerajaan Fu-Nan Di Indocina. Sebelumnya, Fu-Nan Adalah Satu-Satunya Pemegang Kendali Di Wilayah Perairan Selat Malaka. Faktor Lainnya Adalah Kekuatan Armada Laut Kerajaan Sriwijaya Yang Mampu Menguasai Jalur Lalu Lintas Perdagangan Antara India Dan Cina. Dengan Kekuatan Armada Yang Besar, Kerajaan Sriwijaya Kemudian Melakukan Ekspansi Wilayah Hingga Ke Pulau Jawa. Dalam Sumber Lain Dikatakan Bahwa, Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Sampai Ke Brunei Dan Di Pulau Borneo.

Runtuhnya Kerajaan SRIWIJAYA

Pada Abad Ke-11 M, Kerajaan Sriwijaya Mulai Mengalami Kemunduran. Pada Tahun 1006 M, Kerajaan Sriwijaya Diserang Oleh Dharmawangsa Dari Jawa Timur. Serangan Ini Berhasil Dipukul Mundur, Bahkan Kerajaan Sriwijaya Mampu Melakukan Serangan Balasan Dan Berhasil Menghancurkan Kerajaan Dharmawangsa. Pada Tahun 1025 M, Kerajaan Sriwijaya Mendapat Serangan Yang Melumpuhkan Dari Kerajaan Cola, India. Walaupun Demikian, Serangan Tersebut Belum Mampu Melenyapkan Kerajaan Sriwijaya Dari Muka Bumi. Hingga Awal Abad Ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya Masih Tetap Berdiri, Walaupun Kekuatan Dan Pengaruhnya Sudah Sangat Jauh Berkurang.

Dari Prasasti Kota Kapur Yang Ditemukan JK Van Der Meulen Di Pulau Bangka Pada Bulan Desember 1892 M, Diperoleh Petunjuk Mengenai Kerajaan Sriwijaya Yang Sedang Berusaha Menaklukkan Bumi Jawa. Meskipun Tidak Dijelaskan Wilayah Mana Yang Dimaksud Dengan Bhumi Jawa Dalam Prasasti Itu, Beberapa Arkeolog Meyakini, Yang Dimaksud Bhumi Jawa Itu Adalah Kerajaan Tarumanegara Di Pantai Utara Jawa Barat. Selain Dari Isi Prasasti, Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Juga Bisa Diketahui Dari Persebaran Lokasi Prasasti-Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Tersebut. Di Daerah Lampung Ditemukan Prasasti Palas Pasemah, Di Jambi Ada Karang Berahi, Di Bangka Ada Kota Kapur, Di Riau Ada Muara Takus. Semua Ini Menunjukkan Bahwa, Daerah-Daerah Tersebut Pernah Dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Sumber Lain Ada Yang Mengatakan Bahwa, Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Sebenarnya Mencapai Philipina. Ini Merupakan Bukti Bahwa, Kerajaan Sriwijaya Pernah Menguasai Sebagian Besar Wilayah Nusantara.

Kekuasaan Tertinggi Di Kerajaan Sriwijaya Dipegang Oleh Raja. Untuk Menjadi Raja, Ada Tiga Persyaratan Yaitu :

1. Samraj, Artinya Berdaulat Atas Rakyatnya.
2. Indratvam, Artinya Memerintah Seperti Dewa Indra Yang Selalu Memberikan Kesejahteraan Pada Rakyatnya.
3. Ekachattra. Eka Berarti Satu Dan Chattra Berarti Payung. Kata Ini Bermakna Mampu Memayungi [ Melindungi ] Seluruh Rakyatnya. Penyamaan Raja Dengan Dewa Indra Menunjukkan Raja Di Kerajaan Sriwijaya Memiliki Kekuasaan Yang Bersifat Transenden. Belum Diketahui Secara Jelas Bagaimana Struktur Pemerintahan Di Bawah Raja. Salah Satu Pembantunya Yang Disebut Secara Jelas Hanya Senapati Yang Bertugas Sebagai Panglima Perang.

Di Bidang Perdagangan, Kerajaan Sriwijaya Mempunyai Hubungan Perdagangan Yang Sangat Baik Dengan Saudagar Dari Cina, India, Arab Dan Madagaskar. Hal Itu Bisa Dipastikan Dari Temuan Mata Uang Cina, Mulai Dari Periode Dinasti Song [ 960-1279 M ] Sampai Dinasti Ming [ Abad 14-17 M ]. Berkaitan Dengan Komoditas Yang Diperdagangkan, Berita Arab Dari Ibn Al-Fakih [ 902 M ], Abu Zayd [ 916 M ] Dan Mas'Udi [ 955 M ] Menyebutkan Beberapa Di Antaranya, Yaitu Cengkeh, Pala, Kapulaga, Lada, Pinang, Kayu Gaharu, Kayu Cendana, Kapur Barus, Gading, Timah, Emas, Perak, Kayu Hitam, Kayu Sapan, Rempah-Rempah, Dan Penyu. Barang-Barang Ini Dibeli Oleh Pedagang Asing, Atau Dibarter Dengan Porselen, Kain Katun Dan Kain Sutra.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya Berdasarkan Tahun

Tahun 671 M - I Ching singgah di Sriwijaya
tahun 671 adalah tahun awal yang membutikan adanya Kerajaan Sriwijaya. bukti ini di dapat dari seorang Bhiksu Buddha Tiongkok yang bernama I Ching yang sedang berkelana lewat laut menuju india untuk mendapatkan teks agama buddha dalam bahasa sangsekerta melalui Jalur Sutra atau jalur perdagangan untuk kemudian di bawa ke tiongkok dan di terjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa. semasa perjalanan nya ini lah I Ching singgah di Sriwijaya pada Tahun 671 dan menetap selama 6 bulan di sriwijaya kemudian melanjutkan perjalanan nya ke Malayu yang sekarang disebut dengan jambi menetap pula di jambi selama 2 bulan

Gambaran I Tsing tentang Sriwijaya
"Banyak raja dan pemimpin yang berada di pulau-pulau pada Lautan Selatan percaya dan mengagumi Buddha, dihati mereka telah tertanam perbuatan baik. Di dalam benteng kota Sriwijaya dipenuhi lebih dari 1000 biksu Budha, yang belajar dengan tekun dan mengamalkannya dengan baik.... Jika seorang biarawan Cina ingin pergi ke India untuk belajar Sabda, lebih baik ia tinggal dulu di sini selama satu atau dua tahun untuk mendalami ilmunya sebelum dilanjutkan di India".

Tahun 683 M - Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti kedukan bukit yang ditemukan oleh M. Batunburg pada tanggal 29 November 1920 di kebun Pak H. Jahri tepi sungai Tatang, desa Kedukan Bukit di kaki Bukit Siguntang sebelah barat daya Palembang. Prasasti yang berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm ini ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno adalah sebuah Prasasti yang memperjelas adanya Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini Sangat Jelas Menggambarkan Kejadian yang terjadi pada saat itu.

Isi prasasti kedukan bukit yang telah di terjemahkan:
tanggal 23 April 683 dapunta hiyang naik ke perahu untuk melakukan penyerangan dan sukses dalam Penyerangannya. 19 Mei 683 Dapunta Hiyang berlepas dari minanga membawa 20.000 bala tentara dengan perbekalan 200 peti di perahunya. Rombongan pun tiba di Mukha Upang dengan suka cita. 17 Juni 683 Dapunta Hyang datang membuat wanua

Tahun 684 M - Prasasti Talang Tuo
Prasasti ini ditemukanpada tanggal 17 November 1920 di kaki bukit siguntang oleh Louis Constant Westenenk. Prasasti yang memiliki bidang datar berukuran 50cmX80cm ini juga dipahat menggunakan Aksara Palawa dalam bahasa melayu kuno. Dalam prasasti Talang Tuo yang bertarikh 684 M, disebutkan mengenai pembangunan taman oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk semua makhluk berisi pohon pohon yang buahnya dapat dimakan, Taman tersebut diberi nama Sriksetra.

Tahun 686 M - Prasasti kota kapur
Prasasti yang ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak ditemukan di pesisir Barat Pulau Bangka, dinamakan Prasasti Kota Kapur karna sesuai dengan Tempat di temukan nya yaitu di dusun kecil di Pesisir barat Pulau Bangka yang bernama kota Kapur. Prasasti yang ditemukan oleh J.K Van Der Meulen pada bulan Desember 1892 dan di terjemahkan oleh George Coedes orang yang sama yang telah menerjemahkan Prasasti Kedukan Bukit ini berisi tentang Kutukan bagi siapapun yang memberontak kepada Sriwijaya serta berisi Hal hal baik untuk yang setia kepada Sriwijaya, dalam Prasasti Kota Kapur ini juga jelas di ucapkan tanggal 28 Februari 686 Bala tentara Sriwijaya berangkat untuk Menyerang Bumi jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya

Tahun 718 M - Sri Indrawarman Raja Sriwijaya masuk islam
Hal ini di dasari oleh Surat yang dikirimkan Sri Indrawarman yang saat itu berstatus sebagai Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari bani Umayyah. dalam surat itu disebutkan dari seorang Maharaja, yang memiliki ribuan gajah, memiliki rempah-rempah dan wewangian serta kapur barus, dengan kotanya yang dilalui oleh dua sungai sekaligus untuk mengairi lahan pertanian mereka. Bersamaan dengan surat itu juga dikirimkan Hadiah untuk Khalifah

Tahun 717-720 M - Surat kedua Ke Suriah meminta Da'i ke Sriwijaya
Surat kedua yang dikirimkan Raja Sriwijaya ini di dokumentasikan oleh Adb Rabbih dalam karya Al-Iqdul farid. isi potongan surat tersebut berbunyi :
Dari Raja di raja... yang adalah keturunan seribu raja.. kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.

Tahun 724 M - Sri Indrawarman mengirim hadiah ke Cina
Sama hal nya dengan yang di lakukan Raja Sri Indrawarman kepada Raja Arab pada kisaran Tahun 717-720 M. Raja Sri Indrawarman juga mengirimkan hadiah kepada kaisar Cina berupa ts'engchi

Tahun 775 -787 M - Dharanindra Mengusasi Sriwijaya
Hal ini di dasari oleh sebuah Prasasti yang ditemukan di sebuah tempat yang bernama Ligor saat ini tempat tersebut bernama Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand. Prasasti  Ligor memiliki 2 Sisi. Sisi Pertama disebut sebagai Ligor A dan Sisi sebaliknya disebut Ligor B. Ligor A ditulis pada tahun 775 oleh raja Kerajaan Sriwijaya, sedangkan Ligor B ditulis oleh Wangsa Sailendra setelah Menaklukkan Sriwijaya

Tahun 792 - 835 M - Samaratungga Memerintah Sriwijaya
di kisaran Tahun ini lah di perkirakan Samaratungga menjadi Raja di Kerajaan Sriwijaya dengan mengedepankan Agama dan Budaya, terbukti di bangunnya candi Borubudur pada tahun 825 M oleh Samaratungga. Pernikahan Samaratungga dengan Dewi Tara Lahirlah Balaputradewa sebagai Pewaris Tahta Kerajaan Sriwijaya

Tahun 860 M - Balaputradewa Naik Tahta
Prasasti Nalanda berangka tahun 860 ditemukan di Nalanda, Bihar, India. adalah bukti bahwa Balaputradewa pernah menjadi Raja di Kerajaan Sriwijaya, Penafsiran Manuskrip Prasasti Nalaya berbunyi : " Sri Maharaja di Suwarnadwipa, Balaputradewa anak Samaragrawira, cucu dari sailendravamsatilaka (mustika keluarga sailendra) dengan julukan sriviravairimathana (pembunuh pahlawan musuh), raja Jawa yang kawin dengan Dewi Tara, anak Dharmasetu"

Tahun 990 M - Serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa
Serangan raja Dharmawangsa ini di dasari oleh berita cina dari dinasti song, di kisahkan dalam berita cina bahwa Sriwijaya terlibat persaingan dengan Kerajaan Medang untuk menguasai Asia tenggara, kedua Kerajaan ini saling mengirimkan duta ke cina, utusan Sriwijaya berangkat pada tahun 988 tertahan di kanton ketika hendak pulang, karna negri Sriwijaya di serang tentara Kerajaan Medang, Pada Tahun 992 duta Sriwijaya mencoba pulang kembali namun tertahan di Campa karna negri Sriwijaya belum aman, duta ini meminta Kaisar Song untuk menyatakan bahwa Sriwijaya berada dalam perlingdungan cina, untusan Kerajaan Medang tiba di cina tahun 992 M, dikirim setelah Dharmawangsa berhasil menaklukkan Sriwijaya.

Tahun 1006 / 1016 - Wafatnya Dharmawangsa Teguh
dalam Prasasti Pucangan disebutkan sebuah peristiwa Mahapralaya yaitu peristiwa hancurnya Kerajaan Medang. Tentara Aji Wurawari dari Lwaram yang di perkirakan sekutu Sriwijaya menyerang Istana raja Dharmawangsa Teguh di  Wwatan. Dharmawangsa Teguh meninggal pada peristiwa tersebut.

Tahun  1003 M - Sri Cudamaniwarmadewa
keterangan ini di dapat dari sebuah manuskrip nepal pada abad ke 11 yang memuji negara Sriwijaya sebagai pusat kegiatan utama agama budha, dan memiliki area indah lokananantha di sriwayapura. Dan sebuah kronik Tibet yang ditulis pada abad ke 11 bernama durbodhaloka menyebutkan pula nama maharaja sri Cudamanirwarman dari sriwijayanagara di suwardawipa.

Tahun 1008 M - Sri Mara-Vijayottunggawarman
Penemuan Prasasti Leiden yang tertulis pada lempengan tembaga berangka tahun 1005 yang terdiri dari bahasa Sansekerta dan berbahasa Tamil. sesuai dengan tempat  di temukan nya yaitu di KITLV Leiden, Belanda. maka Prasasti ini dinamakan Prasasti Leiden.

Nama Sri Mara-Vihayottunggawarman di sebutkan dalam Prasasti Leiden sebagai anak dari Sri Cudamaniwarmadewa yang memiliki hubungan baik dengan dinasti Chola dari Tamil, selatan India
Terjemahan Prasasti Leiden : 
Raja Sriwijaya, Sri Mara-Vijayottunggawarman putra Sri Cudamani Warmadewa di Kataha telah membangun sebuah vihara yang dinamakan dengan Vihara Culamanivarmma

Tahun 1025 M - Kehancuran Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya Hancur Diserang oleh Rajendra Chola dari Kerajaan Chola serangan Rajendra Chola I dari Koromandel India selatan, didasarkan pada bait akhir prasasti Tanjoreyang menceritakan tentang penaklukan yang dilakukan Kerajaan Chola atas beberapa kawasan termasuk beberapa kawasan di nusantara serta penawanan raja Sangrama-Vijayottunggawarman dari Sriwijaya.

Referensi :

1. Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941.
2. William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975

Credit Image: Google Image

Arsip Blog

Visitor

Popular Posts

Donate To Me On Paypal

https://www.paypal.me/riyanto1971