Jumat, 11 Oktober 2013

Festival unik dan ritual ekstrim masyarakat phuket tahailand ini, pasti bikin bulu kuduk merinding, dan ini sering dilakukan oleh penganut ajaran Taoisme ( Tao ) di Thailand. Masyarakat phuket Thailand melakukan aksi yang mereka anggap penghormatan terhadap dewa mereka. Perayaan hari sembilan dewa ini mereka lakukan dengan aksi tusuk badan dengan senjata tajam, paku, pedang dan benda benda tajam lainnya,termasuk memotong lidah dengan pedang atau juga pisau. Bagian muka seperti pipi ditusuk dengan paku hingga tembus, ada juga mulut ditusuk dengan pedang hingga tembus ke pipi, Belum lagi aksi mengiris ngiris lidah dengan senjata tajam, termasuk menghujamkan pedang, tombak, pisau ke perut. Bisa dibilang memutilasi diri sendiri dengan senjata tajam, Atraksi masyarakat phuket thailand ini mirip banget dengan aksi debus di Indonesia.

Ini gambar gambar dari ritual ekstrim ala masyarat phuket thailand ("WARNING" adegan ekstrim hanya buat mereka yang berusia diatas usia 17+) :

gambar ekstrim

kebal senjata tajam

ritual aneh

ritual ekstrim masyarakat phuket thailand

Atraksi menyakiti diri ala masyarakat phuket thailand ini dilakukan oleh mereka yang menguasi keahlian tersendiri, jangan pernah dicoba dirumah. Dan aksi tusuk tubuh dengan senjata tajam hanya dilakukan oleh para ahlinya, walau tidak jarang diantara mereka juga ada yang harus dilarikan kerumah sakit
karena cedera karena senjata tajam.

Aksi kebal tubuh dari senjata tajam ini sering dilakukan juga oleh kebanyakan masyarakat asia lainnya, termasuk Indonesia, cuma beda dengan cara dan keyakinannya. atraksi ekstrem ini, atau ritual ekstrim masyakarat phuket thailand ini menjadi daya tarik turis mancanegara.

Apapun  namanya, kekuatan tubuh bukan untuk dipamerkan, tradisi tiap masyarakat dunia memang tidak sama. Penghormatan pada leluhur dan dewa bagi mereka yang meyakininya. Tuhan tidak akan pernah suka jika manusia menganiaya dan menyakiti dirinya sendiri. Tapi keyakinan dan tradisi adat mungkin banyak mengingatkan suatu bangsa atas keberadaan leluhurnya.

Credit image : Paula Bronstein

0 comments:

Poskan Komentar

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini