Minggu, 08 Juli 2012

Tidak ada manusia yang tidak pernah melewati masa kecil dengan kata lain masa kanak kanak. disebuat anak karena belum melewati fase pubertas. Anak bisa laki laki ataupun perempuan. Siapa yang tidak ingat permainan yang selalu dimainkan bersama baik anak laki laki maupun anak perempuan? Rasanya pasti semua inget. Jika dibandingkan masa sekarang, kehidupan masa kecil anak-anak pada masyarakat Indonesia, banyak dirampas oleh kehidupan yang menuntut mereka untuk bekerja dan pendidikan yang mengarah kepada pendidikan formal dibanding kepada pendidikan yang mengarah kepada dalam lingkungan keluarga.

Kondisi anak sekarang Cenderung di tuntut untuk menyelesaikan pendidikan formal, tanpa memperhatikan kondisi psikologis perkembangan anak. Sebagai Contoh yang banyak dialami anak pada pendidikan usia dini atau lebih dikenal dengan istilah Taman Kanak Kanak (TK) atau PAUD, seorang anak sudah di tuntut untuk bisa membaca dan berhitung dari pada bermain. 

permainan-tradisional

Boleh dibilang saat ini tempat bermain anak-anak sudah di sekat-sekat atau digolongkan. Kenapa? coba renungkan bagi mereka yang hidup dilingkungan mewah mereka akan memperbolehkan anak anak mereka bermain dilingkungan orang miskin yang dianggap kotor. Karena bagi orang kaya kecenderungan memberi tempat permainan yang sudah dikelola secara profesional, rapih dan bersih. naj Bagi anak-anak dari golongan kurang mampu biasanya mereka bermain di tempat-tempat kotor seperti lapangan tanah, hutan, pinggir kali, atau di lorong lorong kampung.

Apakah anak anak sekarang tahu permainan tradisional, rasanya tidak, karena mereka selalu dinina bobokan oleh permainan yang latar belakang elektronik modern. Beda dengan permainan tradisional selalu berkaitan dengan alam sekitar. Ini disebabkan keakraban manusia hidup bersama alam dalam kesehariannya. Hukum alam dipahami sebagai ‘hukum Tuhan’ yang sangat dipatuhi, sehingga ketika manusia akan bersentuhan dengan alam, mereka akan sadar diri akan Tuhannya. Hubungan harmonis ini selalu dilestarikan melalui sikap hidup sehari-hari, termasuk dalam menyiapkan generasi penerus. Kesadaran itu diterapkan dalam tata asuh anak yang mampu menjaga dan menghormati alamnya.

Permainan dan mainan sangat dekat sekali dengan pola perkembangan hidup seorang anak bahkan permainan ini akan mampu mengembangkan daya pikir anak anak secara tidak langsung. Permainan tradisional pada masyarakat Indonesia selain memperlihatkan dengan alam juga memperhatikan kebutuhan anak dalam mencapai perkembangan usianya, bahkan material yang digunakan untuk membuat permainan juga tergantung kepada material yang di sediakan oleh alam. Ini membuktikan bahwa pola hidup masyarakat di pengaruhi oleh lingkungan alam dan berpengaruh terhadap perkembangan anak serta mainan dan permainannya. bisa dibilang secara tidak langsung mendidik anak untuk kreatif dan mandiri.

Kondisi lingkungan bermain bagi anak yang sudah berbeda, menjadikan permainan tradisional jarang di mainkan oleh anak-anak sekarang, mereka lebih mengenal jenis permainan yang bersifat elektronik dan digital. Jenis permainan tradisional seolah-olah tersingkirkan dari lingkungan anak-anak tergerus oleh permainan modern.

Di Indonesia permainan tradisional jumlahnya sangat banyak di setiap daerah dan banyak yang memiliki kesamaan dalam bentuk tapi penamaan yang berbeda. Keragaman ini dipengaruhi oleh lingkungan alam yang menyediakan material untuk di jadikan alat permainan.

Kekayaan alam, kemurnian lingkungan, kedamaian dan omaginasi serta rasa yang membentuk sebuah masyarakat yang sadar akan kepentingan generasinya melalui tahapan bermain. Kekayaan budaya yang ada dan melimpah ini adalah sebuah kekayaan yang perlu di pertahankan keberadaannya karena merupakan hasil karya dan cipta masyarakat.

Alat mainan tradisional langka dimainkan oleh anak-anak masa kini, bahkan di pedesaan pun jarang terlihat anak membuat mainan dari material alam disekitarnya. akan akan jarang bahkan tidak pernah lagi menemui anak anak yang bermain kuda kudaan dari daun pisang, egrang ( tongkat katu yang diberi tempat berpijak kaki dan dibuat tinggi dari kayu ) dipakai berjalan dan membuat kita seperti memiliki kaki dan tubuh yang panjang.

Yang banyak ditemui sekaramg hanya mainan modern yang terbuat dari bahan-bahan plastik, kertas dan logam lebih banyak didapat oleh anak. Di tahapan pendidikan usia dini secara formal maupun informal, mainan tradisional hampir tidak diperkenalkan lagi sebagai media bermain anak, hal ini karena terbatasnya sumber dan data tentang mainan yang ada. Padahal mainan, hakikatnya dapat dijadikan media belajar bagi anak, seperti melatih melatih gerak motorik dan kreativitas. Mainan merupakan sebuah media yang dapat melatih kecerdasan dan keterampilan, namun sayang mainan tersebut bukan berasal dari budaya masyarakat setempat. berbagai bentuk permainan dan mainan tradisional masyarakat sangat dekat dengan alam sekitar. Alam hakikatnya menyediakan media mainan yang tak terbatas bagi anak.

Sekarang dan masa yang akan datang akan lenyaplah banyak mainan tradisional akibat kemajuan teknologi yang mempengaruhi perkembangan mainan dan permainan anak tradisional, baik fungsi maupun pilihan materialnya. Perubahan dan pengembangan mainan yang terjadi di masyarakat masa kini umumnya dikarenakan keberadaan material alam yang sulit diperoleh, atau fungsi mainan yang sudah bergeser. Bahkan beberapa mainan sudah punah dan ada pula yang berubah penggunaan material dasarnya walaupun memiliki fungsi yang serupa sama, apalagi buat mereka yang hidup di perkotaan.

Klo anak anak dulu selalu bisa mandiri dalam membuat mainan atau mau bermain apa, mereka memiliki keinginan dan mencari apa yang bisa dijadikan mainan, kreatif dengan mencari, membentuk, dan berkarya untuk bersama. coba klo mainan zaman sekarang kebanyakan membuat anak cukup duduk dan memainkan keypad, remote control untuk  memainkan permainannya, yang parah kebanyakan mainan anak sudah melatih kekerasan pikiran anak seperti games games fighting, tembak menembak yang rata rata membunuh dan mengalahkan yang dilakukan apapaun caranya yang penting bisa mengalahkan musuh dan menang.

Maka lahir dan terbentuklah manusia egois, pemarah, licik dan munafik serta tidak memikirkan orang lain yang penting bisa menang apapun caranya untuk menjatuhkan lawannya. bukan berusaha untuk menang karena kemampuan berkarya dan untuk kepentingan bersama seperti dalam membuat dan memainkan permainan tradisional tapi mainan politik yang munafik, mainan hukum yang bermuka dua.

Jadi tidak kuno atau udik mainan zaman dahulu yang bisa membentuk manusia yang selalu berbuat untuk bersama,  ketimbang mainan modern yang membuat anak manjadi individu yang keras dan tidak kenal lingkungan.

0 comments:

Poskan Komentar

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini