Senin, 01 April 2013

Kalau nonton di televisi rasanya ngeliat orang orang hebat bicaranya sangat hebat, apalagi acara debat publik, adu argumen, adu mulut,adu gengsi, adu keyakinan, rasanya isinya orang orang yang pinter ngomong, dan bersilat lidah. Tak jarang malah lulusan luar negeri demi gelar kebanggaanya. Sekolah sekolah hebat dan sekolah sekolah favorit adalah tempat mereka menimba ilmu. jauh dari hidup kekurangan, jauh dari rasa sulit, yang penting gengsi terpenuhi dan gelar hebat dari sekolah ternama didapat. Yang lebih hebatnya lulusan sekolah hebat malah lebih banyak dihargai ketimbang sekolah kampung yang serba terbatas. selalu jadi pedoman mati buat perusahaan besar atau bahkan instalasi negeri.

Paling Indonesia, jika sudah sukses mata orang malah sering tertutup ketimbang terbuka untuk mengabdi demi sesama. Ilmu dicari dengan uang dan uang adalah tujuan akhir dari menuntut ilmu disekolah manapun. Uang ibarat berhala dizaman modern, yang selalu disembah dan banyak manusia yang menggantungkan hidupnya demi dan untuk uang.

Apalagi mendekati pemilu, entah pemilihan bupati, walikota, gubernur bahkan presiden. Tiap orang yang ingin menang selalu merapat dengan orang orang kecil biar tercipta kesan peduli dengan orang pinggiran dan rakyat miskin. Kampanye siapapun selalu berada ditempat tempat terbawa kehidupan. Siapapun yang pernah menjabat sebagai pemimpin di kota dan negeri ini selalu memanfaatkan rakyat kecil sebagai alat politik.

Kesan kepalsuan dan image menjijikan dari kepura puraan, dari manusia manusia yang ingin meraih posisi tertentu terkadang membuat muak. Penghargaan yang pernah diberikan terkadang salah sasaran, banyak pahlawan pahlawan yang tiada ternama, tiada tercatat, tiada pernah terdengar apalagi diperhatikan ditiap pelosok. Lihat saja mereka mereka yang berbuat kebaikan tanpa pernah diekpos dan dipublikasokan dimedia demi kemanusian pasti banyak ditiap daerah pelosok.

Generasi muda wajib menuntut ilmu, dan sekolah adalah tempat menimba ilmu yang wajib jika ingin mendapatkan sebuah serifikat seperti ijazah. Masih banyak anak anak negeri ini yang sulit untuk kesekolah, terutama mereka mereka yang berada dipedalaman, padahal mereka warga indonesia. tiap negara ada presiden yang bertanggung jawab atas rakyatnya, tiap provinsi ada gubernur yang bertanggung jawab di provonsi yang mereka pimpin, tiap kota mempunyai walikota, kepinggiran ada bupati untuk kabupaten, ada camat, turun lagi ada lurah, terakhir ada rt.

Arinya tiap jabatan ada nilai dan batas tanggung jawabnya, Ada yang bertanggung jawab atas wolayah yang mereka pimpin. Jadi jika ada masalah ketahuan siapa yang tidak beres, dan siapa yang dipersalahkan, orang maling sendal di kampung gak mungkin menyalahkan presiden. pastinya rt yang lebih dulu tahu wilayah tanggung jawabnya.

Begitu juga jika ada desa tertinggal, siapa yang patut disalahkan.? masih banyak pelosok pelosok yang belum memiliki akses jalan, jembatan. Apalagi rumah sakit masuk desa, paling banter puskesmas dan bidan. jika sakit parah mereka harus kekota besar dan terkadang nyawa sudah melayang dalam perjalanan. Coba tengok sekolah sekolah dipelosok, gurunya juga terkadang hadir terkadang tidak, dimana pelayan publik yang harusnya melayani pebliknya.

Masih banyak daerah daerah pelosok yang tidak memiliki akses jalan yang layaknya, mereka harus bergantung pada jembatan gantung yang tidak selayaknya untuk melakukan aktifitas, siapa yang peduli? siapa yang bertanggung janwab? ketika browsing kita terkadang malu melihat mirisnya nasib anak anak yang ingin pergi kesekolah hanya melewati tali jembatan gantung untuk pergi kesekolah, jembatan gantung tidak masalah asal layak, tapi yang melewatinya anak anak sekolah dasar yang masih kecil kecil, artinya pergi kesekolah sama dengan mengadu nyawa dijembatan gantung. siapa yang peduli? Kesekolah harusnya menuntut ilmu, bukan bertarung nyawa. murah banget nyawa anak anak di negeri ini.

Jika di televisi kita melihat tontonan orang membagi bagikan uang, trus siapa yang peduli dengan anak anak ini. Foto foto ini didapat malah dari website luar negeri, malu rasanya melihat orang lain peduli dengan anak anak disini, kita kok malah rebutan jabatan. Yang kalah tidak bisa menerima kekalahan, dan yang belum tentu menang memaksakan diri ingin menang, yang sudah pernah menangpun terkadang masih kurang puas. paling indonesia banget, jagonya kalah ngamuk, gak suka sama orang main fitnah, benci sama orang sebar gosip, ngerasa gak kuat minta backing aparat, Pamer kekayaan didepan publik, sok paling bener jika ngomong. sogok sana sogok sini biar banyak dukungan, Hancurlah negeri ini.

Ini foto anak anak yang mengadu nyawa diatas jembatan gantung dan jembatan rusak demi ke sekolah, semoga bisa membuka mata bagi mereka mereka yang peduli dengan nasib anak anak pedalaman, mereka mereka yang jarang diperhatikan, mereka mereka yang butuh bantuan, mereka mereka yang butuh perlakuan yang sama,mereka mereka yang mungkin menjadi pemimpin hebat negeri ini dimasa depan.
















Itulah Anak Anak Yang Mengadu Nyawa Di Atas Jembantan Gantung Demi Sekolah, Mari Berbuat untuk sesama, salam blogger Nusantara dari Blogger Bumi Sriwijaya.

1 komentar:

  1. semoga kelak menjadi orang sukses ya dik, jgn lupa belajar yg tekun

    BalasHapus

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini