Rabu, 29 Juni 2011

fitnah

Berbagai tragedi sudah nampak terjadi, semua terbungkus dengan rapinya, berbagai macam assesoris telah dinampakkan, akan tetapi sayang assesoris yang cantik nan menawan itu telah membuat kita terbuai.

Seorang penipu, dengan sempurnanya menipu dengan assesoris berbalut kata-kata manis untuk meyakinkan korbannya.

Rasulullah Saw pernah berpesan kepada umatnya bahwa nanti diakhir zaman tidak ada orang yang selamat dari dampak banjirnya fitnah dan adu domba kecuali orang-orang yang diberi ilmu yang hidup didalam hati untuk berpegang teguh kepada kepada Allah dan sunah Rasul secara menyeluruh.

Terbukti, sekarang fitnah berjalan meliuk-liuk bagaikan melodi yang sangat indah, berbalut dengan pencerahan agama, dibungkus rapi, dengan ayat-ayat al quran akan tetapi dibalik itu didalamnya ada racun fitnah yang mematikan.

Bahkan saking indahnya fitnahpun dibungkus dengan tetesan air mata, dengan menangis ia menjelekkan orang lain, Sehingga fitnah inilah yang membuat antara satu dengan lain menjadi musuh, satu dengan yang lain merasa benar sendiri sehingga menjatuhkan antara satu dengan yang lain.

Maka disaat itu tidak ada yang selamat, melainkan orang yang selamat dihidupkan hatinya oleh Allah Swt, dengan ilmu hikmah.

Masih ingatkah kejadian pemboman melalui media buku, kejadian itu merupakan suatu gambaran bahwa bungkus bukan jaminan bahwa didalamnya itu bagus.

Ada sebuah hikayah

Ada salah seorang ulama besar dia adalah seorang ahli dakwah, pada suatu saat ada salah satu muridnya bertanya

"Wahai kyai, saat kyai berdakwah pernahkan mendapatkan fitnah dan hikmah?"

dan ulama itupun menjawab "Iya, saya pernah mendapatkan fitnah dan hikmah tersebut ketika saya berdakwah"

Lalu berceritalah ulama itu

"Suatu saat saya turun dari podium, setelah berdakwah semua datang menciumi tangan saya dan semua menyanjung saya, kontan membuat saya menjadi senang dan bangga seakan-akan saya orang yang terbaik, maka itulah fitnah bagi saya karena aku lupa bahwa aku adalah seorang manusia yang penuh banyak salah dan dosa, yang terbungkus dengan kebaikan-kebaikan.

Lanjut cerita ulama tersebut

"Dan di lain waktu ketika saya turun dari podium ada salah seorang mencaci saya, orang itu mengatakan kamu itu bodoh, tolol, dan tidak pantas menajdi seorang ulama, akan tetapi saya hanya diam tidak membalas sehingga dari cacian itu saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang mulia dan tidak ada apa-apanya sehingga sayapun merasa rendah, merasa banyak kekurangan, akhirnya bisa menangis dan bersimpuh dihahadapanNya"

"Itulah hikmahnya yang terbungkus dengan sesuatu yang menyakitkan hati dan menyedihkan." Tukas seorang ulama besar itu mengakhiri ceritanya.

Maka dari hikayat tersebut jangan melihat bungkus dengan asesoris yang indah penuh dengan puji-pujian, penuh dengan sanjungan, sehingga membuat hati merasa lebih baik daripada orang lain. Dan akhirnya dia merasa besar, dan itulah fitnah yang terbungkus dengan keindahan.

Jangan pula lihat bungkus yang kusam, jelek, dan tidak sedap di pandang mata, penuh cacian, fitnaan dan hinaan, ternyata dibalik bungkus yang kusam dan jelek itu ada hikmah yang agung, apabila kita merasa kecil dihadapanNya.

Ternyata fitnah itu berjalan seiring keluar masuknya nafas dan setiap kata dan ucapan terkadang mengarah pada fitnah, gosip, gunjingan, obralan, bayolan akhirnya bisa kepleset kedalam fitnah.
hati hati temen bentar lagi bulan ramadhan atau bulan puasa ada baiknya mempersiapkan diri dari sekarang.

0 comments:

Poskan Komentar

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini