Jumat, 08 Juli 2011

Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya abad ke-7 memberikan pengaruh besar pada kehidupan penduduk Bali. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa Timur.


Suatu hari beliau mendapat bisikan gaib dari Tuhan untuk bertempat tinggal di sebelah timur Pulau Dawa (pulau Jawa sekarang). Dawa artinya panjang, karena memang dulunya pulau Jawa dan Bali menjadi satu daratan.

Dengan diikuti oleh 800 pengikutnya, beliau mulai bergerak ke arah timur yang masih berupa hutan belantara. Perjalanan beliau hanya sampai di daerah Jembrana sekarang Bali Barat karena pengikut beliau tewas dimakan harimau dan ular-ular besar penghuni hutan. Akhirnya beliau memutuskan kembali ke Gunung Raung untuk bersemedi dan mencari pengikut baru.

Dengan semangat dan tekad yang kuat, perjalanan beliau yang kedua sukses mencapai tujuan di kaki Gunung Agung (Bali Timur) yang sekarang disebut Besakih.

Sebelum pengikutnya merabas hutan, beliau melakukan ritual menanam Panca Dhatu berupa lima jenis logam yang dipercayai mampu menolak bahaya. Perabasan hutan sukses, tanah-tanah yang ada beliau bagi-bagi kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tegalan, rumah, dan tempat suci yang dinamai Wasukih (Besakih).

Di sinilah beliau mengajarkan agama kepada pengiringnya yang menyebut Tuhan dengan nama Sanghyang Widhi melalui penyembahan Surya (surya sewana) tiga kali dalam sehari, menggunakan alat-alat bebali yaitu sesajen yang terdiri atas tiga unsur benda: air, api, dan bunga harum.

Ajaran agamanya disebut agama Bali. Lambat laun para pengikutnya mulai menyebar ke daerah sekitar, sehingga daerah ini dinamai daerah Bali, daerah yang segala sesuatunya mempergunakan bebali (sesajen).

Bisa disimpulkan bahwa nama Bali berasal dari kata bebali yang artinya sesajen.

Ditegaskan lagi dalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: “Ada sebuah tempat di timur Dawa Dwipa yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya berupa bebali (sesajen).”

Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali memang tidak bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya

Related Posts:

  • Mimpi Dan KenyataanSeandainya seseorang yang terbangun ketika mendengar alarm jam berbunyi ketika masih berada di pertengahan mimpi mengalami sedikit keheranan. Kegembiraan dan kesedihan yang ia rasakan, makanan yang ia cicipi atau bau yang ia … Read More
  • Yang Hebat Dari Indonesia Dari Dulu Sampai Sekarang   1. Borobudur  Borobudur adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi … Read More
  • Macam Dan Gaya KucingKucing Kucing gaya, ya emang karena ini foto kucing pesolek dengan banyak gaya, kucing hewan kesayangan wanita, tingkah keseharian kucing kadang bikin ulah menjengkelkan tapi terkadang lucu, ini sepotong gambar gambar kucing … Read More
  • Koleksi Wallpapers Justin BieberWallpapers Justin Bieber. Buat ABG yang gandrung dan nge fans Justin Bieber koleksi wallpapers ini bagus buat tampilan  pc desktop atau notebook kamu, tinggal klik kanan save as. Klo masih kurang banyak  lag… Read More
  • Wanita Cerewet Inilah AlasannyaSemua Pria pasti tahu kenapa wanita suka sekali banyak bicara, dan yang paling disukai wanita adalah gosip mengapa demikian? Apakah wanita itu memang indentik dengan gosip? bukan! menurut saya karena wanita itu banyak bicara.… Read More

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog

Visitor

25484860
Popular Posts

Donate To Me On Paypal

https://www.paypal.me/riyanto1971