Kamis, 21 Juli 2011

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, 20 orang yang terdiri dari pria dan wanita, tua dan muda mulai berkumpul di pinggir rel kereta dekat Stasiun Rawabuaya, Jakarta Barat.

terapi-di-rel-kereta-api

Beberapa di antaranya tampak membawa bantal dan payung, lainnya mulai menyingsingkan celana dan bajunya. Tak lama, mereka pun mulai merebahkan diri di atas rel kereta. Sontak saja, aliran listrik rel kereta menjalar ke sekujur tubuh.

Tanpa disadari, tangan yang direntangkan sambil memegangi rel mulai bergetar, kaki pun tak kalah hebatnya bergetar. Bukannya takut, mereka justru tampak menikmatinya. "Habis enak sih, sudah terbiasa saya datang ke sini," ujar Kusmiati (61), warga Duri Kosambi, Rabu (20/7/2011), saat dijumpai di lokasi.

Kusmiati bercerita dirinya mulai merebahkan diri di rel kereta api sejak tahun 2010. Saat itu, Kumiati menderita berbagai macam penyakit mulai dari Diabetes, darah tinggi, sulit tidur hingga migrain.

Berbagai macam cara telah ditempuhnya mulai dari berobat di rumah sakit sampai mengikuti terapi batu giok. "Hasilnya nihil. Uang terbuang percuma tapi tetap tidak ada perbaikan," akunya.

Ketika segala macam upaya tak membuahkan hasil, tetangga Kumiati memberitahukan adanya terapi rel listrik di Rawabuaya. "Saya pikir awalnya. Ah, kayak orang gila stress aja tiduran di rel," ucapnya.

Namun, setelah dicoba sekitar tiga bulan, pernyakit Kumiati pun mulai berkurang. Kumiati mengaku sudah bisa tidur lelap, tidak lagi pusing, dan darah tinggi serta diabetesnya semakin berkurang. "Syukur sekarang udah enakan. Makanya karena saya merasa enak, nyaris tiap hari saya selalu ke sini," ujar Kumiati.

Hal yang sama juga diutarakan Sri (50), warga Duri Kosambi. Tahun 2010, Sri mengalami sakit parah separuh bagian tubuhnya nyaris lumpuh akibat stroke. "Saya nggak bisa jalan, bibir sampai mencong-mencong begitu," ujarnya.

Jarum suntik kerap menghujam dirinya untuk memperbaiki kondisinya itu. Namun, sama seperti Kumiati, Sri pun tak merasa kondisinya membaik. Seorang tetangga akhirnya menyarankan untuk terapi listrik di Stasiun Rawabuaya. "Saya dulu dibawa ke sini sampai harus dibopong karena tidak bisa jalan," tutur Sri.

Namun, kini Sri sudah bisa berjalan lagi dan tiap hari selalu menyempatkan diri merebahkan diri di rel kereta Rawabuaya. "Jadi ketagihan. Karena terasanya enak di badan," ungkap Sri.

Sri biasanya melakukan terapi rel listrik selama satu jam tiap harinya. Cerita Sri dan Kumiati hanyalah cerita dari segilintir kepercayaan warga akan khasiat aliran listrik yang berasal dari kereta api. Setiap pagi dan sore harinya, rel kereta di stasiun Rawabuaya dipadati oleh sekitar 20-30 warga yang berbaring dengan santai.

Saat akhir pekan, warga yang datang bisa sekitar 50 orang dan berasal dari berbagai wilayah di luar Jakarta. Seakan berbaring di pantai, para warga ini sama sekali tidak khawatir akan sengatan listrik yang ditimbulkan atau pun lalu lintas kereta api di rel itu. "Tenang saja, karena kita sudah sering di sini jadi hapal jam berapa saja kereta datang," ucap Budi (51), warga Rawabuaya.

Budi yang juga seorang kepala sekolah ini mengatakan lalu lintas kereta di Rawabuaya sangat minim dan hanya ada setiap 1-1,5 jam sekali. "Kalau ada kereta akan lewat, petugas stasiun akan peringatin kami. Nah, kami akan menjauh, kalau keretanya sudah lewat, kami rebahan lagi," kata Budi.

Budi menuturkan setiap harinya pengunjung bertambah karena mulai munculnya cerita khasiat listrik di rel Rawabuaya. "Wallahualam, tapi saya rasakan khasiatnya," aku Budi yang sudah enam bulan menjalani terapi ini. [kompas]

0 comments:

Poskan Komentar

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini