Jumat, 01 Juli 2011

Kita tahu dunia adalah ladang tempat untuk menanam, apabila kita menanam kebaikan maka di akherat kebaikan pulalah yang kita petik, dan apabila apabila kita menanam keburukan maka di akherat keburukanlah yang kita dapat.

sombong

Pasti semua tidak ingin hidup yang hanya sekali ini tidak berarti Kita ingin surga? Maka tanamanlah bibit-bibit surga di dunia

Jangan berhandai-handai kita akan masuk surga, jikalau bibit-bibit surga tidak kita tanam di dunia

Ingat… !!!

  • di surga tidak ada orang sombong,
  • di surga tidak ada orang hasud,
  • di surga tidak ada orang bangga,
  • di surga tidak ada orang yang saling fitnah menfitnah,
  • di surga tidak ada iri hati maupun dengki, dan
  • di surga tidak ada merasa aku paling baik,

Berbeda di neraka, kebalikan dari surga, merasa sombong, banyak hasud, merasa bangga saling fitnah menfitnah,saling iri hati maupun dengki, dan saling merasa aku paling baik!

Maka jangan berhandai-handai mati lalu masuk surga,TIDAK!

Mari sejenak kita merenung, bibit-bibit manakah yang kita tanam sekarang? sudahkah bibit-bibit surga itu kita tanam didalam hati kita? Atau malah sebaliknya bibit-bibit nerakalah yang kita tanam didalam hati kita?

Rasulullahpun pernah bersabda :

"Tidak akan masuk sorga orang yang dalam lubuk hatinya ada rasa sombong, sekalipun hanya sekecil dzarrah/ atom"


Ada sebuah kisah hikmah yang bisa kita ambil berikut :

Suatu saat ada ulama besar yang terkenal ahli mukasyafah (tahu isi hati orang lain), saat itu ada beberapa ulama bertamu kepada ulama besar itu.

Satu demi satu ulama yang bertamu itu di persilahkan masuk, akan tetapi ada ulama satu yang dibiarkan begitu saja tidak boleh masuk kedalam rumahnya, akhirnya setelah semua ulama pulang tibalah ulama itupun dipanggil, dan setelah duduk berhadapan ulama ahli mukasyafah itu, si ulama ahli mukasyafah itu tidak menoleh dan menghiraukan sama sekali.

Ulama yang bertamu itu hanya bisa diam seribu bahasa, tanpa berani berbicara, akhirnya ulama itu sedikit memberanikan diri untuk berbicara kepada ulama ahli mukasyafah itu.

"Wahai Syeihk, mengapa sekian lama engkau diam, tidak menghiraukanku? apakah aku ini orang jahat? Apakah perbuatanku jelek? atau amal-amalku busuk? ataukah engkau takabur merasa lebih mulia, lebih terhormat dan lebih baik daripada aku?" Tanya ulama yang bertamu itu

Akhirnya ulama ahli mukasyafah itu itu berkata

"Bukan begitu wahai kyai, aku diam membiarkanmu bukan karena aku sombong merasa lebih baik, takabur merasa lebih mulia daripada kamu, akan tetapi aku tidak menghiraukan engkau karena aku kasihan kepadamu, aku diberitahu Allah dengan keadaanmu sesungguhnya, makanya aku ingin berbicara 4 mata denganmu!"

"Maksdunya Syeihk?" Tanya heran ulama yang bertamu itu

"Kita sama-sama tahu bahwa dunia ini adalah tempat menanam dan kelak hasilnya akan dipetik setelah kita meninggalkan dunia kelak"

Lanjut ulama ahli mukasyafah itu

"Aku tahu dirimu itu adalah orang ulama, punya santri ribuan, kamu sudah terkenal seantero negeri ini, orasi-orasimu itu bisa menimbulkan semangat berjuang bagi siapa saja yang mendenganr, dan aku juga tahu bahwa kamu adalah ahli ibadah, puasa sunnahmu tidak pernah lepas, sholat malammu selalu terjaga, kepada fakir miskin engkau juga sangat perhatian" jawab ulama ahli mukasyafah itu

"lantas apa kesalahanku wahai Syeihk?" Tanya heran ulama itu

"tapi sayang tamanmu itu gersang, ladangmu itu tandus, akbitnya tanaman yang engkau tanam tidak akan panen di akherat kelak"

Terkagetlah ulama itu "Mengapa seperti itu Syeihk?"

"Iya, sebab yang engkau tanam di dunia itu adalah tanah gersang, tanah yang tandus, bukan tanah yang subur, sehingga tanaman yang kau engkau tanam itu sia-sia tidak tidak berbuah apapun"

"Lantas yang dimaksud tanah yang tandus itu apa wahai Syeihk?" Tanya ulama itu

"Kau tahu bahwa hatimu adalah ladang, ladang untuk menanam bibit kebaikan, tapi sayang ketika kamu menanam bibit kebaikan itu, pada saat kau menanam itu hatimu jahat, suka menggunjing orang lain, suka merendahkan orang lain, suka meremehkan orang lain, dan suka menfitnah orang lain, dan suka mengadu domba orang lain, maka pada saat itu bibit-bibit kebaikanmu tidak tumbuh, bibit-bibit surgamu itu mati karena saat itulah akan terhapus amal-amalmu"

Lanjut ulama ahli mukasyafah itu

"Dan tanaman yang bersamaan yang engkau tanaman itu ada penyakit ujubnya"

"Dimana ujub itu wahai Syeihk?"

"Ketika kamu menjadi kyai bangga, kamu menjadi orang baik bangga, kamu dihormati banyak orang bangga, maka banggamu itulah yang menghapus semua amalmu yang kau tanam saat itu juga"

Ingat Rasulullah pernah bersabda "Banggamu itu akan menghapus amalmu 70 tahun!" (HR. Dailami)

Setelah mendapat teguran keras, menangislah ulama itu sejadi-jadinya, sambil berkata

"Ternyata akulah orang yang paling hina, ternyata akulah orang yang paling rendah dan berlumuran dosa, akupun tak pantas masuk dalam surgamu, apalagi bertemu denganMu"

"Yaa Allah ampunilah dosa-dosa hambamu yang lemah dan hina ini, biarpun aku masuk neraka, jangan Kau lepas kasih sayangMu untukku".

0 comments:

Poskan Komentar

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini